Mengenal Lebih Dekat Si Kantung Udara

Mengenal Lebih Dekat Si Kantung Udara

Syubhan Akib - detikOto
Rabu, 19 Feb 2014 09:59 WIB
Mengenal Lebih Dekat Si Kantung Udara
dok Toyota
Jakarta - Di mobil-mobil terkini, kantung udara atau airbag merupakan piranti standar. Namun, meski sudah dilengkapi SRS Airbag, misalnya, ada kondisi-kondisi dimana airbag itu tidak akan terkembang meski telah terjadi kecelakaan. Mau tahu? Mari kita bahas bersama.

SRS Airbag adalah alat keamanan pasif yang melengkapi peran dari sabuk pengaman. SRS merupakan singkatan dari Supplemental Restrain System atau sistem penahan tambahan terhadap benturan.

Sehingga perlu diketahui bahwa sabuk pengaman tetap alat utama yang membantu melindungi penumpang pada suatu tabrakan. Terlebih, cedera bisa saja terjadi kalau si pengendara atau penumpang tidak menggunakan sabuk pengaman ketika terjadi tabrakan dan saat airbag terkembang.

Untuk itu, mari kita cari tahu bagaimana mekanisme airbag sebenarnya.

1. Mekanisme Airbag

Untuk pengemudi, airbag biasanya dipasang di tengah bantalan roda kemudi. Sementara airbag penumpang di pasang pada dashboard di depan jok penumpang.

Nah, ada tahapan mengembangnya airbag yang perlu diketahui. Pertama, ketika terjadi tabrakan atau benturan maka energi tabrakan itu akan diterima oleh Front Airbag Sensor yang biasanya ada di depan mobil serta Airbag Sensor Assembly yang biasanya ada di dalam kabin mobil.

Setelah itu, sensor akan merespon Initiator yang akan membakar Propellant Grain & Enhancer sehingga menghasilkan gas. Gas inilah yang kemudian akan mengembangkan airbag.

Urutan peristiwa kejadian mulai dari deteksi tabrakan, mengembang serta mengempisnya airbag, contohnya di mobil Toyota, memakan waktu kira-kira 0,2 detik.

2. Kondisi agar airbag mengembang

Perlu diketahui, airbag akan mengembang jika tingkat benturan telah sampai di atas ambang yang telah dirancang.

Pada mobil Toyota, kecepatan kendaraan kira-kira 25 km/jam saat terjadi tabrakan frontal terjadap penghalang permanen yang tidak bergerak.

Sementara batas kecepatan yang mungkin lebih tinggi dari 25 km/jam diperlukan apabila membentur objek atau penghalang yang dapat bergerak ketika ditabrak, contohnya adalah kendaraan yang tengah diparkir.

Contoh-contoh kondisi dimana airbag akan terkembang adalah saat tabrakan secara frontal, menabrak penahan atau pinggiran trotoar atau benda keras lain, jatuh atau melompati lubang dalam serta saat kendaraan misalnya mendarat dengan keras.

3. Kondisi airbag tidak mengembang

Namun, ada pula kondisi tabrakan dimana airbag tidak terkembang. Para pengemudi mungkin akan mengira kalau airbag mereka rusak, padahal tidak.

Sebab ada beberapa kondisi dimana SRS Airbag tidak dirancang untuk mengembang. Misalnya saja ketika kendaraan kita tertabrak dari arah samping.

Selain itu, ketika kendaraan terguling, tertabrak di bagian belakang kendaraan atau menabrak objek yang lebih tinggi (misalnya truk), SRS Airbag tidak akan terkembang.

Belum berhenti sampai d isitu, ketika mobil menabrak tiang tepat di tengah grille depan atau ketika mobil menabrak tapi hanya di bagian sudut depan kendaraan SRS Airbag juga tidak akan meresponnya.

4. Efek samping airbag

Selain memiliki efek positif, airbag ternyata juga memiliki efek negatif. Terutama ketika airbag harus mengembang cepat di saat mobil kecelakaan ketika melaju dengan kecepatan di atas 100 km/jam.

Ketika hal itu terjadi, maka kontak penumpang dengan airbag akan menimbulkan efek samping. Memar, luka lecet atau cedera sangat mungkin terjadi.

Di samping itu, suara letupan keras dan asap putih yang timbul --terutama karena asap putihnya-- bisa menyebabkan iritasi pada mata, kulit dan dapat menyebabkan sesak nafas sementara waktu.

Itu untuk penumpang dewasa, sementara untuk penumpang bayi atau anak-anak yang duduk di jok penumpang depan juga bisa membahayakan.

Karena itu, lebih baik bayi dan anak-anak duduk di jok belakang dengan jok khusus.

5. Hal yang perlu diperhatikan

Untuk memaksimalkan kinerja airbag pengemudi atau penumpang harus tetap menggunakan sabuk pengaman dan ingat, airbag hanya mengembang satu kali saja.

Jadi ketika telah terjadi kecelakaan dan airbag mengembang, perlu dilakukan pemasangan perangkat airbag yang baru agar dapat aktif kembali.

Jangan menempelkan stiker di dashboard depan agar kinerja airbag tidak terganggu ketika perlu mengembang.

Jangan pula melakukan suatu perubahan yang dapat menghalangi kinerja airbag tanpa konsultasi ke bengkel resmi merek mobil Anda misalnya ketika anda ingin melakukan pemasangan perangkat elektronik atau melakukan sesuatu pada atau dekat fender depan.

Sebelum berkendara, cek juga indikator peringatan airbag yang ada di panel indikator.

Bila indikator menyala apabila kunci kontak diputar ke posisi ON dan padah setelah kira-kira 6 detik, maka kondisi airbag depan masih bagus. Bila indikator itu tidak menyala atau malah menyala terus menerus, berarti ada yang tidak beres.

Halaman 2 dari 6
(syu/ddn)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads