"Toyota Soluna pernah diproduksi di Indonesia. Honda City pernah diproduksi di Indonesia. Mengapa oleh mereka dipindahkan ke Thailand, karena pasar sedan di Indonesia tidak berkembang. Karena apa tidak berkembang, karena harganya mahal. Kenapa mahal, karena PPnBM-nya tinggi," kata Wakil Ketua I Gaikindo Jongkie D. Sugiarto di Jakarta.
"Jadi Toyota Honda bilang, angkat bos, pindahin ke Thailand, diproduksi-lah itu 2 sedan di Thailand. Indonesia perlu. Berapa sih? sebulan 500 unit, gue kirim dari Thailand. Susah amat," ungkap Jongkie.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Jongkie, pajak kendaraan sedan di Thailand yang lebih rendah mengakibatkan penjualan kendaraan jenis sedan berlipat-lipat dari Indonesia.
"Di Thailand pasar sedan sekian ribu per bulan. di Indonesia cuma 500 unit. Dipindahin dong. Jadi kita pernah bicara juga, bahwa dari mana kita mulai untuk mengubah tadi bahwa Indonesia itu menjadi basis produksi untuk sedan. Supaya kita bisa produksi lebih tinggi dan ekpor lebih tinggi dan seterus-seterusnya. Ujung pertamanya adalah turunkan dulu PPnBM. Sedan kecil ya saya bicaranya ya. Supaya apa? Harga jualnya murah. Harga jual murah dibeli orang," ucapnya.
Dia menjelaskan dengan harga jual sedan rendah maka akan berdampak pada peningkatan volume penjualan sedan dimana akan merangsang produsen mobil memproduksi kembali sedan di Indonesia.
"Kalau dibeli orang, merek-merek tersebut akan memproduksi, atau merakit jenis kendaraan tersebut di Indonesia. Dan Indonesia akan dijadikan basis produksi untuk jenis kendaraan tersebut. Baru ekspor. Jadi kita mesti lihat begitu. Ujungnya turunkan PPnBM," ungkapnya.
"Jadi sedan 1.500 cc ke bawah dikenakan PPnBM 30 persen. MPV atau mobil penumpang 4x2 1.500 cc itu 10 persen. Itu tarif yang berlaku. Saya mengatakan bahwa kalau kita turunkan tarif 30 persen itu ke berapa saya enggak tahu, itu kebijakan pemerintah, bukan berarti income pemerintah kita akan turun. Misalnya dari 30 persen turun jadi 10 persen, sama dong seperti 4x2. Nah, volumenya naik pasti. Orang bisa beli. Volumenya naik. Dikaliin 10 persen tadi, mungkin rupiahnya gede," paparnya.
Gaikindo sendiri seperti yang dijelaskan Jongkie sudah berulang kali mengusulkan pengurangan pajak sedan. Namun pemerintah seakan menutup telinganya.
"Sudah kita sudah usulkan, dan sudah bicara berkali-kali. kita sudah sampaikan ke Perindustrian, tapi Perindustrian tidak bisa memutuskan sendiri. Harus dengan Kemenkeu karena ini kan penurunan tarif. Kita melihatnya kan begitu," imbuhnya.
Jongkie mengatasnamakan Gaikindo terlihat cukup pasrah dengan regulasi pemerintah. Saat ini hanya Toyota yang cukup berani memproduksi sedan di Indonesia, itu pun karena Toyota Thailand memilih eco car dan mengorbankan produksi Toyota Vios dan Limo beralih ke Indonesia.
"Tapi mudah-mudahan, Anda sudah dengar Toyota sudah merakit sedannya di Indonesia. Sudah dimuilai. Mudah-mudahn pemerintah kita juga bisa melihat bahwa penurunan tarif bukan semata-mata menurunkan pendapatan dalam rupiahnya," pungka Jongkie
"Yang saya katakan tadi kita harus berani menurunkan tarif untuk menaikkan penjualan. Dengan begitu merek-merek tersebut industrinya ke Indonesia (produksi sedan), akhirnya Indonesia jadi basis sedan dan jangan MPV mulu," tutupnya.
(ikh/ddn)












































Komentar Terbanyak
Awas Kaget! Segini Pajak BYD Atto 1 Bila Tak Lagi Dapat Insentif
Naik Gila-gilaan! Intip Perbandingan Harga BBM RON 98 di RI Vs Negara ASEAN
Nasib! Harga BBM Naik, Mobil Listrik Malah Nggak Gratis Pajak Lagi