Dua kota itu adalah Dalian dan Tianjin yang berada di utara China. Kedua kota itu menyiapkan diri untuk melakukan pembatasan kendaraan untuk masyarakat karena polusi udara di kedua kota itu dianggap sudah akut akibat populasi mobil yang terus meningkat yang diperparah dengan polusi dari sektor industri.
Wakil Walikota Tianjin, Yi Hai Lin menyebutkan bahwa Pemerintah Kota Tianjin saat ini sedang mempersiapkan metode pembatasan. Selain untuk mengurangi tingkat polusi, tindakan ini juga untuk mengurangi kemacetan dan mengontrol populasi kendaraan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain Tianjin, Dalian yang memiliki sekitar 1,2 juta mobil juga mengatakan kalau mereka juga berencana untuk membatasi penjualan mobil. Pemerintah provinsi Liaoning telah menyetujui rencana tersebut.
Sebelumnya, Beijing sejak tahun 2011 sudah mengeluarkan aturan dimana mereka hanya mengeluarkan sekitar 20.000 izin kendaraan baru tiap bulan. Masyarakat yang ingin membeli mobil harus lebih dahulu mendaftarkan namanya untuk kemudian diundi tiap bulan siap yang berhak mendapat izin dan pelat nomor.
Jadi meski sudah memiliki uang, calon konsumen belum tentu bisa langsung membeli mobil mereka bila nama mereka tidak keluar di undian bulanan. Tahun depan, pemerintah kota Beijing menurut rencana akan mengurangi kembali angka pelat nomor yang akan mereka keluarkan hingga 38 persen sebagai upaya untuk mengurangi polusi dan kemacetan lalu lintas di sana.
Beijing akan mengurangi jumlah tahunan pelat nomor baru menjadi hanya 150.000 pada tahun 2014 dari 240.000 yang dilakukan sekarang.
Bahkan langkah itu menurut rencana bukanlah yang terakhir. Karena pada tahun 2017 pemerintah berencana hanya akan mengeluarkan 90.000 pelat nomor dan izin untuk kendaraan bermesin konvensional karena sisanya ingin diberikan pada kendaraan ramah lingkungan.
Padahal di Oktober 2013 lalu saja ada 1,66 juta warga Beijing yang berharap mendapat pelat nomor meski pemerintah kota hanya mengeluarkan izin bagi 20.000 mobil baru tiap bulannya. Al hasil, persentase tiap orang yang namanya diundi untuk mendapatkan pelat nomor pun makin kecil, yakni hanya 1,1 persen saja.
Sedangkan Shanghai melakukan pembatasan serupa tapi tidak dengan sistem undian atau lotere, melainkan dengan sistem lelang. Jadi pelat-pelat nomor resmi yang hendak dikeluarkan akan dilelang oleh pemerintah kota yang membuat harga pelat nomor terkadang jadi lebih mahal dari harga mobil itu sendiri.
(syu/lth)












































Komentar Terbanyak
Awas Kaget! Segini Pajak BYD Atto 1 Bila Tak Lagi Dapat Insentif
Naik Gila-gilaan! Intip Perbandingan Harga BBM RON 98 di RI Vs Negara ASEAN
Diduga Mirip Produk China Rp 8 Juta, Kok Bisa Motor MBG Tembus Rp 40 Juta?