Bila harga mobil baru tiap hari mengalami penurunan ketika dijual kembali, beda halnya dengan mobil klasik. Mobil klasik harganya naik terus dan dianggap sebagai salah satu cara unik untuk berinvestasi.
Pekan lalu saja sebuah Ferrari tahun 1964 laku hingga US$ 14,4 juta (Rp 169,4 miliar) disebuah lelang. Menghancurkan rekor sebelumnya yang berada di angka US$ 6,9 juta untuk model yang sama.
Balai lelang Sotheby bahkan berhasil menjual 31 mobil klasik senilai hampir US$ 63 juta atau sekitar Rp 741,19 miliar hanya dalam waktu dua jam pada sebuah pelelangan di New York belum lama ini.
Hal itu tidak mengherankan, karena menurut Knight Frank's Luxury Investment Index, selama satu dekade terakhir ini nilai rata-rata mobil klasik telah meningkat sebesar 430 persen. Padahal di periode yang sama harga emas hanya naik 273 persen saja.
"Permintaan untuk mobil-mobil klasik meningkat. Seiring dengan perhiasan dan seni Asia, mobil sekarang berada di urutan atas tiga kategori koleksi," kata juru bicara Bonham Chloe Ashby di CNN.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Orang-orang telah lebih tertarik pada aset berwujud selama 10 tahun terakhir. Mobil klasik menyenangkan, Anda dapat mengendarai mereka dan mereka telah menjadi gaya hidup juga. Ini juga merupakan cara untuk menyampaikan kekayaan dari satu generasi ke generasi berikutnya," jelasnya.
Menurut Historic Automobile Group Index (HAGI), tahun ini saja nilai mobil klasik telah melonjak sampai 39 persen meski banyak pengamat mengatakan kalau tren pertumbuhan nilai mobil klasik ini akan segera melambat di masa depan.
"Seseorang tidak harus pergi ke pasar mobil antik untuk tujuan investasi murni, tetapi memiliki gairah untuk mobil klasik. Kembali, sesuatu yang paling berharga dari memiliki mobil kuno adalah kepuasan bahwa Anda memiliki sesuatu yang Anda sukai," lugas Hatlapa.
(syu/ddn)












































Komentar Terbanyak
Agrinas Juga Impor Motor Roda Tiga untuk Kopdes Merah Putih
Muncul Dugaan Indonesia Dijadikan 'Tong Sampah' Pickup India
Pabrik di RI Bisa Produksi 400 Ribu Pick Up, Nggak Perlu Impor untuk Kopdes