Kronologi Rem Blong Tucuxi Versi Dahlan Iskan

Kronologi Rem Blong Tucuxi Versi Dahlan Iskan

- detikOto
Selasa, 08 Jan 2013 13:34 WIB
Kronologi Rem Blong Tucuxi Versi Dahlan Iskan
Dahlan Iskan (Ari Saputra)
Jakarta - Menteri BUMN Dahlan Iskan membeberkan saat-saat menegangkan ketika mobil Tucuxi yang dijajalnya bermasalah pada rem. Dahlan sudah mencoba mengerem mobil itu sekuat tenaga sampai kakinya terasa capek.

Dahlan menjelaskan, Tucuxi yang dibuat oleh Danet Suryatama tidak memiliki girboks, tenaga dari motor listrik langsung disalurkan gardan dan kemudian ke roda.

"Bersama mas Danet dari Widya Chandra (kediaman Dahlan) ke bandara, saya kemukakan apa saja kekurangan mobil ini. Ada 4 kekurangan untuk diperbaiki, kebetulan tim Mas Danet, Kupu-kupu Malam ada di Jakarta diperbaiki, setelah 2 hari saya coba di Senayan,sampai 2 jam, dan menurut pendapat saya masih ada yang perlu disempurnakan, karena perbaikan tersebut," terang Dahlan di Cafe Gallery, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa (8/1/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mobil menurut Dahlan langsung dibawa ke Yogyakarta untuk diperbaiki, dan sempat dijajal dari Yogyakarta menuju Solo dan tidak ada masalah. Dahlan sempat menjajal Tucuxi di jalanan mendatar, begitu pula di jalanan menanjak.

Dalam perjalanan menuju Tawangmangu Dahlan mengagumi mobil itu, kemampuan menanjaknya top dan hebat, lebih hebat dari mobil biasa. "Sepanjang jalan saya mengagumi, betul bangga ada putra bangsa yang menciptakan mobil listrik yang mampu seperti itu," paparnya.

Medan jalanan kemudian menurun tajam, Dahlan mulai merasa ada keanehan. "Saya kaget disitu remnya spontan saya bilang kuat enggak nih, untuk mengendalikan, saya tidak boleh melepaskan kaki di rem, bau menyengat sekali entah terbakar atau panas, saya putuskan berhenti. Saya katakan bau menyengat tapi saya tidak punya pikiran apa-apa. Kaki saya capek harus menekan terus pedal yang begitu kuat dan lama," ujarnya.

Dahlan kemudian beristirahat sejenak dan kemudian melanjutkan perjalanan masih di jalanan menurun.

"Saya harus menginjakkan kaki sekuat tenaga, lolos, tersisa pertanyaan, mengapa rem harus ditekan terus hingga kaki saya kehilangan tenaga. Di Ngerong, Plaosan, Nagetan landai, kalau tadi turun tajam bisa saya teruskan perjalanan, saya langsung ambil rem tangan tidak ada gunanya, saya harus membagi keputusan harus diapakan, saya lihat ada tebing, saya putuskan untuk menabrak dari pada menyakiti orang atau meninggal dunia, risiko saya ambil, saya tabrakan itu ke tebing, mobil sudah kehilangan power, nyenggol tiang listrik, ada mobil Panther. Di situ saya baru di-SMS oleh seorang bahwa mobil listrik yang tidak menggunakan girboks mnenjadi beban rem, tidak ada bantuan apa apa, bearti selama penurunan tadi tidak ada bantuan sama sekali dari sistem," ujarnya.

Justru dengan kecelakaan ini, Dahlan mengakui menemui kelemahan mobil listrik tanpa girboks. "Waktu dulu ada perbedaan pendapat ini, tapi isu penurunan tanjakan tidak menjadi isu, yang memakai girboks boros energi tidak hemat, saya baru mengetahui, tidak pakai girboks konsekuensinya seperti itu," ujarnya.


(ddn/ddn)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads