"Tahun 2013 (program konversi BBM ke BBG) itu kewenangan pengadaan alat konversi itu tidak lagi di Kementerian ESDM, tetapi di Kementerian Perindustrian," kata Wakil Menteri ESDM Rudi Rubiandini di Kantor BPH Migas, Jakarta, Kamis (27/12/2012).
Dikatakan Rudi, gagalnya program konversi BBM ke BBG tahun ini karena angggaran program tersebut Rp 1,8 triliun hanya untuk tahun 2012.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kebuntuan terjadi, kata Rudi, manakala program tersebut ternyata tidak dikehendaki Menteri Keuangan menjadi program multiyears.
"Ya uang itu harus dikembalikan ke negara, andaikata Menteri Keuangan setuju dijadikan proyek multiyears, maka uang itu masih bisa digunakan tahun 2013, tapi karena Menkeu takut tersangkut lagi seperti kasus Hambalang yang ikut dibawa-bawa karena menyetujui menjadi proyek multiyear, Menkeu nggak berani," ungkap Rudi.
Dan walaupun pengadaan converter kit sekarang ada di Kementerian perindustrian, kata Rudi, agar tetap terus jalan program ini, pihaknya mengalang pihak swasta untuk ikut andil dalam program ini.
"Di mana Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia) dan Astra pasang converter kit, buat bengkel pemasangannya, tapi tentunya mereka tidak mau gratis. Mungkin harus kita beri lisensi atau beri apa disebutnya, stempel atau apapun sedemikian rupa supaya swasta itu mau dari yang memasang dan memperbaiki, kalau ada yang rusak converter kit-nya bisa ke Astra," jelas Rudi.
Adapula kerjasama dengan pihak swasta yakni Carrefour (PT Trans Carreffour) dengan membangun SPBG Mobile di dekat lapangan parkir. "Carrefour sudah mau kerjasama bangun SPBG Mobile di lapangan parkir, karena kalau membangun SPBG yang fix seperti Pertamina agak lama," cetus Rudi.
(hen/syu)












































Komentar Terbanyak
Begini Efek Negatif Impor Mobil Pick Up 105 Ribu Unit Senilai Rp 24 T dari India
105.000 Mobil Pickup Diimpor dari India, Buat Dipakai Koperasi Merah Putih
Ngaku Mau Swasembada Energi, Indonesia Malah Impor Etanol dari AS