Mobil anyar yang merupakan pesaing Multi Purpose Vehicle (MPV) Toyota Nav1 dan Nissan Serana ini dikatakan haram mengkonsumsi bahan bakar bersubsidi karena oktan bahan bakar bersubsidi adalah 88, padahal Biante dirancang untuk minum Bahan Bakar Minyak oktan 92.
Bila meminum bahan bakar subsidi, ditakutkan mobil ini tidak akan maksimal mengeluarkan tenaga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mazda Biante sendiri menggunakan mesinberkapasitas 2.000 cc dengan 4 silinder, DOHC, 16 valve yang dilengkapi dengan dengan Sequential Valve Timing (SV-T) dan Electronic Throttle Control (ETC).
Mesin ini kemudian dikawinkan dengan Direct Injection Spark Ignition (DISI) yang pada akhirnya membuat mobil ini mampu melontarkan tenaga hingga 150 PS pada 6.200 rpm dengan torsi 190 Nm pada 4.500 rpm.
Indonesia Negara Kedua Setelah Jepang
Indonesia yang dimasuki Biante untuk bertarung dengan Toyoya Nav1 dan Nissan Serena sendiri tercatat tidak pernah dipasarkan selain di negeri Sakura, Jepang. Jadi bisa dibilang Indonesia menjadi negara satu-satunya diluar Jepang yang menerima Mazda Biante.
Di Jepang, Biante diperkuat dengan pilihan mesin 2.000 cc dan 2.300 cc. Khusus Jepang, MPV Biante dilengkapi dengan idle stop teknologi (i-Stop), sementara Biante di Indonesia tidak dilengkapi fitur ini. Selain itu aksesoris lainnya seperti pelek sudah disesuaikan dengan iklim jalanan Indonesia.
Kemewahan terdapat pada MPV Biante lewat sliding door untuk mengakses kursi kedua dan ketiga.
"Sebuah kehormatan buat kita, Biante diset sebagai JDM di Jepang dan dirancang tidak ekspor. Kita coba bilang bahwa pasar MPV bagus di RI. Dan mereka setuju," ucapnya.
"MPV Biante yang ini (di Indonesia) sudah disesuaikan spesifikasinya untuk Indonesia. Sudah 80 persen sudah sesuai iklim Indonesia dan itu dipenuhi," tutupnya.
(ikh/syu)












































Komentar Terbanyak
Begini Efek Negatif Impor Mobil Pick Up 105 Ribu Unit Senilai Rp 24 T dari India
105.000 Mobil Pickup Diimpor dari India, Buat Dipakai Koperasi Merah Putih
Pick Up 4x4 India Jadi Kendaraan Operasional: Biaya Perawatan Mahal-Suku Cadang Terbatas