Dengan datangnya berita tersebut, Iran sepertinya harus bergantung pada Peugeot dan Citroen untuk mengembalikan kepercayaan industri otomotif internasional terhadap negara tersebut.
Sebab setelah para pemain penting di dunia otomotif seperti Toyota, GM, Fiat, Hyundai dan PSA Peugeot Citroen meninggalkan negara itu akibat diberlakukannya sanksi terhadap Iran, industri otomotif di negeri para mullah itu telah mengalami banyak kesulitan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Iran Khodro yang merupakan produsen mobil utama Iran dan pasangan Peugeot di Iran sejak tahun 1989, harus meningkatkan biaya produksi sebesar 10% pada bulan Oktober karena banyak bahan baku yang harus diimpor. Mereka bahkan harus menutup beberapa pabriknya di negeri itu seraya Saypa, sebuah perusahaan importir mobil yang membuat harga mobil naik sebesar 18%.
Menurut asosiasi mobil setempat, pada semester pertama di tahun kalender ini, harga mobil rata-rata tercatat sudah naik hingga 35 persen.
Langkah yang dibuat Peugeot meski baru diumumkan oleh Komite Industri Iran namun belum dikonfirmasi oleh sang produsen menurut In auto news merupakan langkah terpaksa yang dilakukan oleh produsen mobil Prancis tersebut.
Sebab, Peugeot dan Citroen tidak lagi bisa mengharapkan penjualan mobil di Eropa yang ekonominya tengah krisis. Group otomotif terbesar di Prancis ini bahkan sempat meminta bantuan pemerih Prancis.
Hal inilah yang sangat mungkin memaksa produsen mobil tersebut untuk membuat langkah ini, seraya mempertimbangkan bahwa Iran adalah pasar mobil yang cukup besar.
(syu/ddn)












































Komentar Terbanyak
Begini Efek Negatif Impor Mobil Pick Up 105 Ribu Unit Senilai Rp 24 T dari India
105.000 Mobil Pickup Diimpor dari India, Buat Dipakai Koperasi Merah Putih
Pick Up 4x4 India Jadi Kendaraan Operasional: Biaya Perawatan Mahal-Suku Cadang Terbatas