Mobil rakitan anak Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yakni Esemka Rajawali dan Esemka Bima resmi diluncurkan hari ini di Solo. Pestanya akan berlangsung selama 3 hari berturut-turut.
Kabarnya, banyak instansi pemerintah yang sudah memesan mobil Esemka Rajawali untuk dijadikan kendaraan dinasnya. Seperti Gubernur DKI Jakarta sekaligus duta Esemka, Joko Widodo (Jokowi) yang akan memakai Esemka menjadi mobil dinasnya.
Tapi apakah dengan demikian 2 mobil Esemka yang diluncurkan ini dapat disambut dengan baik oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pasar otomotif di Indonesia itu keras. Konsumen tidak hanya memikirkan harga yang murah serta nasionalisme. Tapi bagaimana si produk itu memiliki kualitas yang baik terutama dari aspek keamanan dan after sales-nya," cetus Johni Pramono saat berbincang dengan detikOto melalui sambungan telepon, Sabtu (10/11/2012).
Dengan kata lain, Esemka harus lebih jeli lagi untuk melihat pangsa pasar di Indonesia. Strategi layanan purna jualnya mau ditawarkan dengan cara yang seperti apa? Mengingat pasar otomotif di Indonesia itu keras, untuk bersaing dengan merek yang sudah ada itu sangat sulit.
"Dunia otomotif di Indonesia itu sudah terkontaminasi dengan urusan politik. Apalagi sekarang pabrikan Jepang yang menguasai pasar Indonesia. Intinya, perjalanan Esemka untuk mencapai kesuksesan itu masih cukup panjang. Tahapan-tahapan yang harus dilewatinya masih banyak banget," tandasnya.
Dirut PT Solo Manufaktur Kreasi Joko Sutrisno, di Solo Techno Park menuturkan Esemka kini secara bertahap tengah menyiapkan layanan purna jual di setiap provinsi di Indonesia. Mobil Esemka sudah memiliki kandungan lokal sebanyak 55-60 persen. Beberapa komponennya dibuat di dalam negeri dan sebagian dari luar. Dari 10.000 pemesanan yang masuk sejak dulu, ternyata hanya tinggal 400 saja yang tersisa. Untuk Esemka Bima dijual seharga Rp 55-60 jutaan, sedangkan SUV Rajawali dijual seharga Rp 140-150 jutaan. Harga belum ditambah pajak.
(/)












































Komentar Terbanyak
Menlu Sugiono Ungkap Alasan Presiden Prabowo Bawa Maung di KTT ASEAN Filipina
Wacana KDM Hapus Pajak Kendaraan-Diganti Jalan Berbayar: Biar Adil
Kapan Potongan Ojol 8% Mulai Berlaku?