Mobil ini adalah sebuah Bentley yang dibuat selama tiga tahun oleh seorang insinyur bernama Bob Petersen. Untuk mobil ciptaannya ini, Petersen memberinya nama Bentley Meteor.
Petersen merakit mobil ini untuk masuk dalam acara televisi terkenal Top Gear. Di jantungnya, ada mesin V12 berkapasitas 27 liter yang dahulu digunakan oleh pesawat tempur macam Spitfire dan Lancaster.
Karena itulah tidak salah kalau Petersen menganggap mobil ini adalah sebuah masterpiece. Dengan mesin besar, kekuatan 850 bhp pun dapat dengan mudah tersembur untuk membawanya berlari hingga topspeed 257,4 km/jam. Kekuatan sebesar itu bahkan belum pernah dibuat resmi oleh Bentley.
Namun mesin dan tenaga yang besar juga membawa efek negatif yakni borosnya bahan bakar. Karena efisiensi bahan bakar mobil ini sangat mengkhawatirkan. Butuh satu galon bahan bakar untuk berjalan hanya 2-3 mil.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Awalnya, Petersen yang memiliki satu bengkel di Devon, Inggris ini mambangun Bentley Meteor dari sasis Rolls-Royce Phantom II lansiran 1930. Dia lalu membuatkan kembali sebuah tubuh diatas sasis itu dengan mengambil gaya dari Bentley jadul.
Namun, nuansa modern di mobil ini hadir dengan adanya power steering dan rem cakram yang kuat yang memberikan kekuatan mengagumkan untuk menghentikan raksasa tersebut.
Di Top Gear, mobil ini digunakan untuk episode Battle of Britain di awal tahun ini, dimana Jeremy Clarkson diadu melawan mobil Jerman yang dilengkapi dengan mesin dari pesawat BMW.
Kini, mobil ini pun hendak dijual dengan perkiraan harga lebih dari setengah juta pounds atau sekitar Rp 7,75 miliar.
"Ini benar-benar unik, contoh spektakuler dari kemampuan rekayasa teknik Inggris," kata Dan Zuckerman, seorang salesman di Coys yang menjual mobil ini seperti dilansir Daily Mail, Senin (5/11/2012).
(syu/ddn)












































Komentar Terbanyak
Begini Efek Negatif Impor Mobil Pick Up 105 Ribu Unit Senilai Rp 24 T dari India
105.000 Mobil Pickup Diimpor dari India, Buat Dipakai Koperasi Merah Putih
Ngaku Mau Swasembada Energi, Indonesia Malah Impor Etanol dari AS