Director General, International Departement Japan Automobile Manufacturers Association, Yoshihiro Yano mengatakan kalau asosiasi produsen mobil asal Jepang itu siap membantu meningkatkan populasi mobil ramah lingkungan di Indonesia.
Tapi pemerintah Indonesia diminta untuk bersikap seperti pemerintah Jepang yang berani memberikan subsidi bagi mobil-mobil ramah lingkungan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Negeri matahari terbit itu menurut Yano juga memiliki target tingkat efisiensi bahan bakar yang harus dicapai tiap produsen mobil. Bila di tahun 2000 target efisiensi BBM tiap mobil yang diproduksi hanya 13,5 (km/liter) kpl, angka itu meningkat jadi 15,1 kpl di 2010 dan akan ditingkatkan lagi menjadi 18,6 kpl di 2015 untuk kemudian mencapai
puncaknya di 2020 ketika efisiensi BBM ditargetkan 22,3 kpl tercapai.
Tidak hanya mengurusi kendaraan berbahan bakar konvensional, pemerintah Jepang pun mendesak produsen mobil untuk membuat kendaraan dari energi alternatif atau energi terbarukan seperti hidrogen, atau etanol.
Untuk mendorong gairah pasar pada mobil-mobil ramah lingkungan, subsidi pun diberikan. Untuk mobil-mobil bermesin konvensional yang sudah mampu mencapai standar efisiensi 2015 tadi, maka mobil itu akan diberi potongan harga 100.000 yen atau sekitar Rp 12,2 jutaan dan untuk mobil kecil subsidinya 70.000 yen atau sekitar Rp 8,5 jutaan.
Untuk truk atau bus, subsidinya berkisar antara 200.000-900.000 yen atau sekitar Rp 24,4 juta sampai Rp 110 jutaan sesuai bobot.
Sementara untuk mobil dengan energi alternatif dan kendaraan masa depan, maka subsidinya akan makin besar lagi.
Sedangkan untuk kendaraan plug-in hybrid dan kendaraan listrik subsidinya antara 670.000-960.000 yen atau sekitar Rp 81,8 jutaan sampai Rp 117,3 jutaan untuk mobil berukuran kecil.
Bagi mobil berukuran standar, subsidinya bisa mencapai antara 450.000 (Rp 55 jutaan), sampai puncaknya diangka 1 juta yen (Rp 122,2 jutaan)," lugasnya.
Untuk Indonesia, harus ada kesamaan visi dan gerakan antara berbagai pihak untuk membuat mobil ramah lingkungan menjadi mobil yang banyak populasinya. Selain bersinergi dengan produsen mobil, konsumen dan penjual bahan bakar juga harus dilibatkan.
Pemerintah dalam hal ini harus membuat rencana tata kota yang baik harus diperbaiki agar kemacetan tidak merajalela, aturan mengenai standar emisi juga harus diperkeras. Masa pakai mobil diberlakukan. Sementara penjual bahan bakar juga harus menyediakan bahan bakar yang baik dengan jaringan yang luas.
Ada pun produsen mobil harus berusaha untuk membuat mobil yang lebih efisien lagi dengan berbagai teknologi yang ada. Kebiasaan mengemudi ala eco-driving juga harus dibiasakan oleh masyarakat.
Dan yang pasti, subsidi bagi mobil ramah lingkungan menurut Yano harus segera diberikan untuk merangsang pasar membeli mobil ramah lingkungan dan membuat mobil ramah lingkungan memiliki harga yang kompetitif.
Hal itu sangat penting segera dipersiapkan dan dilakukan karena Indonesia adalah pasar yang besar dan berpotensi menjadi lebih besar lagi. Bila kondisi dibiarkan seperti ini maka kualitas udara akan makin buruk, emisi akan makin naik dan kemacetan akan makin merajalela.
Dengan predikat sebagai negara berpenduduk terbanyak keempat di dunia dengan populasi mencapai 240 juta penduduk, Indonesia dianggap memiliki potensi pasar yang besar.
Terlebih rasio kepemilikan mobil masih berkisar diangka 37 kendaraan per 1.000 penduduk, padahal memiliki pendapatan perkapita mencapai 3.000 (di 2010).
(syu/ddn)












































Komentar Terbanyak
Begini Efek Negatif Impor Mobil Pick Up 105 Ribu Unit Senilai Rp 24 T dari India
105.000 Mobil Pickup Diimpor dari India, Buat Dipakai Koperasi Merah Putih
Intip Garasi Gubernur Terkaya di RI yang Hartanya Tembus Rp 900 Miliar