Kelemahan Mobil Nasional Listrik di Indonesia

Kelemahan Mobil Nasional Listrik di Indonesia

- detikOto
Jumat, 08 Jun 2012 17:50 WIB
Kelemahan Mobil Nasional Listrik di Indonesia
Mobil listrik garapan Dasep
Jakarta - Mobil listrik memang punya banyak keunggulan. Salah satunya tidak menghasilkan gas buang yang dapat mencemari lingkungan. Selain ramah lingkungan, mobil listrik cenderung jarang ke bengkel untuk melakukan service rutin. Namun ada kalanya mobil listrik memiliki kelemahan.

Kendala yang paling utama adalah tempat pengisian baterai. Tidak seperti mobil konvensional yang diperkuat dengan SPBU yang tersebar luas di tanah air. Insfrastruktur pengisian mobil listrik tidak tersedia. Hal ini tentu saja menyulitkan para pengguna mobil tersebut di Indonesia jika tenaga baterai habis.

Apalagi mobil mobil nasional listrik akan diluncurkan pada akhir 2012 atau paling lambat 2013. Jika memang terpaksa, pengendara harus rela berhenti di restoran, atau tempat lainnya bahkan menumpang di SPBU yang menyediakan tegangan listrik 220 V. Tidak hanya itu, dari segi kecepatan pengisian, mobil listrik buatan PT Sarimas Ahmadi Pratama (SAP) tergolong lambat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Agar baterai berdaya 21 kWh terisi penuh, baterai lithium ion tersebut harus dicas selama 4-5 jam. Sesingkat-singkatnya, pengisian paling cepat membutuhkan waktu selama 30 menit dengan resiko baterai tidak terisi penuh. Faktanya apakah pemilik rela berhenti demi melanjutkan perjalanan.

"Ada 36 buah baterai lithium ion berkapasitas 21 kWh. Terisi penuh butuh 4-5 jam dan ngecas singkat minimal butuh 30 menit," kata pemilik PT Sarimas Ahmadi Pratama (SAP), Dasep Ahmadi.

Namun jika dibandingkan dengan mobil konvensional, mobil yang meminum fosil bumi tersebut sangat ringkas. Tengok dari keuntungannya ketika mengisi bahan bakar minyak (BBM)

SPBU tersebar luas di Jakarta. Sisi ekonomis lainnya, kecepatan ketika melakukan pengisian BBM pada mobil konvensional hanya membutuhkan minimal 5 menit dan maksimal 15 menit (tergantung ramainya SPBU).

Tentu kondisi ini yang menguntungkan mobil konvensional. Kelemahan mobil listrik lainya adalah apakah rangkaian elektronik yang tersemat di mobil listrik lebih kuat ketimbang mobil konvensional.

Mobil listrik lebih rentan jika menghadapi genangan air. Sampai saat ini belum ada satu pun produsen mobil global yang mampu menciptakan mobil listrik tahan genangan air. Kalau mobil dengan mesin konvensional, jangan ditanya. Mobil konsep itu cenderung tahan terhadap kondisi alam.

"Kita masih kembangkan. Mobil sudah kita lakukan uji internal. Nanti akan kita kabari lagi," ucap Dasep.

Nah, sebaiknya kalau memang PT Sarimas Ahmadi Pratama (SAP) serius mengembangkan mobil listrik hendaknya bekerja sama dengan pemerintah dalam penyediaan tempat pengisian mobil listrik yang mudah dijangkau oleh pengguna mobil listrik.


(ikh/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads