Menilik Nasib Mobil Hybrid

Menilik Nasib Mobil Hybrid

- detikOto
Kamis, 10 Mei 2012 17:01 WIB
Menilik Nasib Mobil Hybrid
Jakarta - Harga mahal membuat mobil hybrid di Indonesia dijauhi, padahal di negara lain mobil ini cukup digemari karena keiritian BBM. Seperti di negara Jepang, yang setiap ada produk hybrid diluncurkan, masyarakat Jepang langsung mengincarnya.

Coba kita lihat data penjualan mobil hybrid yang diperoleh detikOto dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Mobil hybrid masih merana.

Mobil hybrid pertama yang berani dijual Toyota yakni Prius cukup menarik perhatian masyarakat di 2009. Di tahun itu Prius terjual sebanyak 19 unit. Harganya waktu itu mencapai Rp 585 juta. Harga itu kini naik menjadi sekitar Rp 600 jutaan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan mesin 1.800 cc, masyarakat pun berpikir, harganya kemahalan. Prius sangat mahal karena komponen pajaknya masih tinggi. PT Toyota-Astra Motor menyebut besaran pajak mencapai 50 persen dari harga jual Prius.

img

"Komponen pajak seperti pajak barang mewah, bea balik nama, dan pajak pertambahan nilai," ujar PR Manager PT Toyota-Astra Motor Rouli P Sijabat beberapa waktu lalu.

Akibatnya jelas, Prius perlahan makin menyurut penjualannya. Di 2010, angkanya mencapai 11 unit, dan 2011 kemarin menjadi hanya 9 unit saja.

Pabrikan mobil lain, Honda, sebenarnya memiliki line up Civic hybrid yang diperkenalkan di 2006 lalu. Di data penjualan wholesales Gaikindo sempat terekam 2 unit Honda Civic terjual di 2009. Namun setelah itu menghilang tanpa bekas

Civic Hybrid mengusung mesin 3-stage i-VTEC dikombinasikan dengan Integrated Motor Assist (IMA).


Yang istimewa, Civic Hybrid adalah kendaraan hybrid pertama untuk Indonesia yang disumbangkan oleh PT HPM kepada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang digunakan sebagai unit riset untuk edukasi dan pengembangan teknologi hybrid di Indonesia.

Namun di tahun 2012 ini seiring penolakan kenaikan harga BBM oleh DPR beberapa waktu lalu, pemerintah pun akhirnya berpikir keras untuk memberikan insentif pada mobil hybrid.

Meski siap memberikan insentif, namun insentif yang diberikan dalam rangka produksi di dalam negeri. Pemerintah tidak mau memberikan insentif impor untuk mobil hybrid karena tidak ada nilai tambah.

Menteri Keuangan Agus Martowardojo menuturkan pemerintah menginginkan produksi mobil yang masuk kategori ramah lingkungan dengan harga murah (low cost green car) tersebut bisa dilakukan di Indonesia. Jadi tidak ada insentif fiskal untuk impor mobil dalam bentuk utuh.

"Kita lebih mengarah kepada bagaimana industri itu untuk memproduksi di dalam negeri bukan mengutamakan impor produk itu dan akhirnya kita harus hanya menjadi pasar produk tapi tidak membangun di dalam negeri," ujarnya saat ditemui di kantornya, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Rabu (8/5/2012).

Angin segar pun kini bertiup pada mobil hybrid setela Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berharap mobil ini makin dikenalkan di masyarakat.

"Juga mulai mengenalkan dan memasarkan transportasi dengan sistem hybrid," ujar SBY.

Apakah pemerintahan SBY mau mengikuti pemerintah negara lain mulai dari Jepang dan AS yang memberikan subsidi khusus untuk mobil listrik dan hybrid sehingga harganya jauh lebih murah? Kita tunggu saja, BBM makin mahal!

(ddn/lth)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads