Hal itu diungkapkan Kordinator Pembelajaran Industri Kreatif di SMKN 2 Surakarta, Dwi Budhi Martono ketika dihubungi detikOto, Jumat (9/3/2012).
"Katalisator juga sebagai penentu, tapi salah satu penyebab terbesar adalah kelebihan bobot," kata Toto.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti halnya Toyota Rush dengan mesin 1.500 hanya berbobot 1.200 kg (berat kosong), sementara jika dibandingkan dengan Honda CR-V 2.000 cc manual, SUV Esemka masih kalah ringan. Honda CR-V 2.000 cc manual memiliki bobot 1.553 kg.
"Esemka beratnya 1.700 kg. Harusnya mesin 1.500 cc bobotnya 1.100 - 1.300 kg. Sehingga melebihi beban yang semestinya. Jadi bobot harus kita kurangi, seperti mengubah pelat bodi dengan yang baru dan dengan dempul tipis. Bodi samping depan dan belakang seperti pintu akan kita rombak," kata Toto.
Ia menjelaskan meskipun Esemka Rajawali diuji dalam kondisi dinamis (diam) mulai kecepatan 0-120 km/jam, mobil tetap saja mengeluarkan emisi gas buang berlebihan. Hal itu karena bobot yang terlampau tinggi.
"Pada umumnya ketika berakselerasi CO akan naik. Nah, Esemka akan mengeluarkan emisi banyak dengan beban berat. Digambarkan seperti tanjakan padahal itu dinamis (diam). Mobil seperti over load jelas pengaruh kalau uji emisi dinamis," ucapnya.
"Selanjutnya kita akan kurangi dempul dan mengurangi bobot berlebihan lainnya," ujarnya.
Soal dempul yang banyak ini sempat disindir oleh Ketua DPR Marzuki Alie saat berkunjung ke Solo bulan Januari lalu.
"Beratnya luar biasa. Dempulannya kiloan. Puluhan kilo. Enggak apa-apa sih, mau dempulnya puluhan kilo, teruskan, kita dukung penuh," ujar Marzuki di Balai Kota Solo, Rabu (4/1/2012).
(ddn/ddn)












































Komentar Terbanyak
Begini Efek Negatif Impor Mobil Pick Up 105 Ribu Unit Senilai Rp 24 T dari India
105.000 Mobil Pickup Diimpor dari India, Buat Dipakai Koperasi Merah Putih
Intip Garasi Gubernur Terkaya di RI yang Hartanya Tembus Rp 900 Miliar