"Untuk beberapa bulan ini kita (Honda) tidak terlalu agresif dalam hal misalnya promisi dan lain sebagainya. Karena memang tidak ada barang yang mau dijual. Ini bisa berlangsung sampai pertengahan 2012," kata Direktur Pemasaran dan Layanan Purna Jual PT Honda Prospect Motor (HMP), Jonfis Fandy di sela-sela peluncuran New Odyssey di Hotel Pullman, Central Park, Jalan S Parman, Jakarta, Selasa (21/2/2012).
Honda pun kini seperti yang dijelaskan Jonfis lebih berhati-hati ketika menawarkan mobil ke konsumen. Soalnya menurut Jonfis, bertindak agresif akan berujung pada kekecewaan konsumen setia Honda di Indonesia. "Inden sudah tidak berlaku lagi," imbuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Enggak tahu jumlahnya berapa (jumlah Honda untuk pasar Indonesia yg hilang). By unit sekitar 40 persen tahun lalu kira-kira hilang. Jadi kalau kita jual 45.000, itu kan 60 persennya saja," ucapnya.
Awal Januari 2012, penjualan Honda sangat merosot. Si bungkuk alias Jazz saja hanya terjual sebanyak 2 unit. Sementara model sedan Honda tidak bisa mendongkrak angka penjualan Honda di RI karena imbas banjir masih terasa.
Freed, Kini Jadi Andalan Honda
Namun Honda bisa bernapas sedikit dengan mengandalkan penjualan MPV Freed di awal 2012. Agar kegiatan produksi Freed tetap berlangsung di pabrik Karawang, Jawa Barat, Honda memasok komponen dari Jepang sebagai pengganti keterbatasan komponen dari Thailand.
"Februari sangat tergantung pada Honda Freed. Dan kebetulan habis juga di dealer, berarti stok sangat tipis. Lagi pula penjualan naik dari tahun lalu. Penjualan naik dari 900 unit ke 1.300-an dan berkisar antara itu (Honda Fredd)," pungkas Jonfis.
"Sampai April, produksi Freed tetap satu shift. Setelah April 2 shift. Part kita pindah ke Jepang, makanya kita bisa produksi," jujurnya.
Sementara itu Jonfis tidak bisa memaksimalkan penjualan Honda Jazz karena masih tunggu suplai dari Thailand.
"Jazz tunggu suplai. Jadi kalau di April mudah-mudaha sudah kembali normal, dan bertahap akan naik. Pertengahan tahun ini andalan satu-satunya Freed saja yang bisa kta jual secara kuantiti," tuntas Jonfis.
(ddn/ddn)












































Komentar Terbanyak
Begini Efek Negatif Impor Mobil Pick Up 105 Ribu Unit Senilai Rp 24 T dari India
105.000 Mobil Pickup Diimpor dari India, Buat Dipakai Koperasi Merah Putih
Ngaku Mau Swasembada Energi, Indonesia Malah Impor Etanol dari AS