Mobnas Mana yang Dipilih Pemerintah?

Mobnas Mana yang Dipilih Pemerintah?

- detikOto
Senin, 16 Jan 2012 13:25 WIB
Mobnas Mana yang Dipilih Pemerintah?
Jakarta - Sederet nama-nama mobil karya nasional seperti Tawon, GEA, Arina, Mobira, Mahator, Esemka dan lain-lain memang sudah tak asing di telinga. Meskipun sudah banyak yang memiliki potensi, mana yang dipilih pemerintah sebagai mobnas?

Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan mendukung penuh mobil-mobil tersebut dan masih terus mengumpulkan potensi-potensi dari kehadiran mobil-mobil lokal yang digagas swasta maupun BUMN itu.

"Kita belum menetapkan, jadi kami akan menggelar saja temuan-temuan ini dan satu per satu mau diajak bicara bagaimana nanti prospeknya karena masing-masing harus punya FS (feasibility study) untuk masuk skala industri dan pemerintah nanti juga akan ambil posisi seperti apa," ujarnya dalam wawancara khusus dengan detikOto.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengaku pemerintah masih bimbang untuk menyikapi kebijakan mobil di dalam negeri walaupun pemerintah akan serius mendorong mobil nasional. Kebimbangan itu, apakah mengikuti Malaysia dengan memiliki mobnas seperti Proton yang diproteksi habis-habisan oleh negara atau Thailand yang mengabaikan adanya mobnas namun mereka jadi raja otomotif di ASEAN.

Apakah mungkin dalam jangka waktu 2 tahun bisa menyiapkan mobnas?

"Makanya itu sebetulnya, yang masih dalam diskusi kami adalah apakah kita berkonsentrasi menjadikan Indonesia sebagai basis produksi, dengan menguasai teknologi yang sekarang sudah 90% (komponen) dengan mahzabnya Thailand, atau kita pakai mahzab-nya Malaysia yang 100% Malaysia jual saham ke publik tetapi harus bersaing ketat dengan mereka yang sudah survive lebih dahulu," paparnya.

Untuk membangun pabrik otomotif menurut Hidayat dibutuhkan banyak investasi. Hidayat mencontohkan Toyota yang membuat pabrik untuk ekspansi US$ 300 juta atau sekitar Rp 3 triliun. "Itu hanya ekspansi saja. Kalau ngomong Rp 10 triliun ada kali ya, saya nggak tahu soalnya sedang dihitung. Kalau ada swasta yang berani mengambil risiko itu, saya juga sudah waktunya saya sarasehan dengan teman-teman pengusaha nasional seperti Bakrie, CT, Tedy Rachmat apakah mereka punya wawasan, atau kita berikan kepada BUMN," ujarnya.

Para pengusaha menurut Hidayat diam-diam tengah menghitung sebab dengan modal yang besar dengan risiko yang tinggi. "Mendapatkan kebanggan nasional itu penting, tapi harus survive," ujarnya.

(hen/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads