'Student SUV Rekindles Indonesian Auto Dreams', itu lah judul soal Esemka yang dimuat di situs Wall Street Journal.
Ketika dikunjungi detikOto, situs itu memuat pernyataan dari Presiden Dunne & Co Michael Dunne yang menuturkan Esemka bisa diproduksi massal namun akan membutuhkan dana besar dan setidaknya bantuan dari produsen mobil Jepang yang sudah ada di Indonesia seperti Toyota dan Daihatsu yang mendominasi pasar Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Esemka sebenarnya sudah sering tampil sejak 2009 lalu. Namun gaungnya makin santer setelah Walikota Solo Joko Widodo memutuskan untuk menjadikan Esemka sebagai mobil nasional meski kemudian diketahui mobil itu belum lulus sertifikasi laik jalan karena emisinya belum memenuhi standar.
Dunne menuturkan untuk membuat Esemka atau produksi massal diperlukan biaya sekitar US$ 50-100 juta. Itu pun untuk tahap pertamanya saja.
Persoalannya pun tidak hanya itu saja, meski ada dana, masalah besar yang menanti adalah persetujuan dari pabrikan Jepang.
Soalnya meski Esemka 80 persen diproduksi lokal, beberapa suku cadangnya awalnya didesain oleh pabrikan Jepang. Mereka pasti tidak ingin desain dan suku cadang mereka digunakan oleh pabrikan lain.
Hal ini pun terjadi saat pabrikan China meluncurkan mobil sendiri menggunakan suku cadang yang didesain oleh pabrikan Jepang. Pabrikan Jepang langsung menuntut pabrikan China.
Belum lagi pemerintah juga harus turut membantu, seperti yang dilakukan pemerintah Malaysia dengan Proton.
Namun, seperti diutarakan pemilik bengkel Kiat Motor, Haji Sukiat, tanpa bantuan pemerintah atau investor besar pun, toh Esemka tetap bisa diproduksi.
"Meski pun tanpa bantuan pemerintah, (Esemka) ini akan menjadi seperti kelinci liar dan beranak sendiri," tutur Sukiat.
(ddn/ddn)












































Komentar Terbanyak
Penjelasan Pertamina soal Harga Pertamax Tiba-tiba Naik 10 Juni
Cerita Prabowo Naik Maung: Atap Bocor, Bunyi Gledak-gledak
Jangan Kaget Lihat Harga Pertamax, Sekarang Tembus Rp 16.250/liter