Mobil Bisa Dibangun 99,99 % dari Udara

Mobil Bisa Dibangun 99,99 % dari Udara

- detikOto
Sabtu, 07 Jan 2012 15:42 WIB
Mobil Bisa Dibangun 99,99 % dari Udara
Jakarta - Bila selama ini aluminium atau serat karbon dipilih pabrikan mobil sebagai bahan yang ringan untuk pembuatan mobil, inovasi baru tercipta. Sebuah metal super-ringan ditemukan. Saking ringannya, metal baru ini diklaim 100 kali lebih ringan dibanding styrofoam.

Inovasi yang dikembangkan oleh California Institute of Technology, HRL Laboratories dan University of California-Irvine yang berhasil secara dramatis membuat sebuah metal ringan.

Dengan logam baru yang diklaim 100 kali lebih ringan dibanding styrofoam ini, kendaraan yang mengaplikasinya pun diprediksi bisa meningkatkan efisiensi hingga seratus kali lipat dari efisiensi mobil saat ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Metal baru ini bukanlah metal padat karena dibangun dari serangkaian jaringan mikro berbahan nikel-fosfor. 'Tali' yang membentuk jaringan ini diklaim lebih tipis dari rambut manusia karena memiliki ukuran 100 nanometer atau 1.000 kali lebih tipis dari rambut manusia.

Selain itu, struktur baru tersebut memiliki persentase 99,99 persen rongga udara dan hanya 0,01 persen jaringan mikro nikel-fosfor.

Bill Carter dari HRL Laboratories mengatakan kalau metal baru ini potensial untuk diaplikasi di industri otomotif terutama untuk mengganti struktur utama mobil dan pesawat hingga memiliki bobot yang ringan dan menjadi lebih irit bahan bakar.

Peneliti juga mengatakan bahwa sebenarnya mobil dapat dibangun dengan menggunakan materi yang 99,99 persen adalah udara.

"Kami merevolusi bahan ringan dengan membawa konsep ini ke tingkat tingkat baru dan merancang arsitektur mereka pada skala nano dan mikro," jelas Carter seperti detikOto kutip dari Ward Auto, Sabtu (7/1/2012).

"Setiap jenis komponen mobil internal yang tidak super-ringan atau terbuat dari logam berat bisa diganti dengan mikro-kisi," timpal anggota tim peneliti Julia Greer.

Sebenarnya, struktur logam baru ini dikembangkan untuk Defense Advanced Research Projects Agency yang merupakan bagian dari Departemen Pertahanan Amerika Serikat.

Tapi, pemerintah AS ternyata tidak ingin hanya mereka yang mengambilkeuntungan dari inovasi tersebut. Saat ini, pabrikan mobil General Motors dan pabrikan pesawat Boeing sudah mengatakan tertarik dengan teknologi baru ini.

(syu/ddn)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads