Aneh, Mobil Irit BBM Mahasiswa Dianggap Mobil Mewah

Aneh, Mobil Irit BBM Mahasiswa Dianggap Mobil Mewah

- detikOto
Rabu, 12 Okt 2011 15:15 WIB
Aneh, Mobil Irit BBM Mahasiswa Dianggap Mobil Mewah
Jakarta - Proses pengeluaran kendaraan irit BBM milik mahasiswa 5 Universitas sangat berbelit-belit. Mobil ringan ini kemungkinan dianggap Bea dan Cukai sebagai barang mewah sehingga harus membayar bea impor yang mahal.

"Saya tidak tahu kenapa proses di Bea Cukai berbelit-belit, mungkin SEMAR dianggap barang komersial dan mewah," ucap Ketua Tim Semar Universitas Gadjah Alfian Fisa di situs resmi UGM, Rabu (12/10/2011).

Mobil tersebut tertahan hampir 2,5 bulan di bea cukai Jakarta. Akibatnya tim SEMAR diwajibkan membayar Rp 35 jutaan untuk biaya sewa gudang dan kontainer. Tim UGM yang patungan menyewa 2 kontainer dengan ITS dan UI harus membayar sekitar 120 juta akibat lambatnya proses di bea cukai, yang ujung-ujungnya harus ditanggung oleh mahasiswa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

β€œBayangkan bila ada 5 universitas (UGM, ITS, UI, ITB dan POLNEP) yang mobilnya tertahan berapa besar dana yang harus dikeluarkan mahasiswa yang notabene sudah mengharumkan nama bangsa. Dengan tambahan biaya sewa gudang dan container sebesar 35 juta, tim SEMAR harus membayar Rp 110 juta hanya untuk pengiriman 2 mobil semar," ujarnya.

Akibatnya dengan berjalannya waktu, biaya sewa kontainer dan biaya sewa gudang membengkak.

Seperti diberitakan sebelumnya, tim mahasiswa ini mengikuti kompetisi kendaraan hemat energi SEM Asia 2011 di sirkuit F1 Sepang di Kuala Lumpur, Malaysia pada 6-9 Juli 2011 lalu

Sepuluh tim Indonesia yang mengikuti SEM Asia 2011 adalah ITS dengan tiga kendaraan Sapu Angin 3, Sapu Angin 4 dan Sapu Angin 5, ITB dengan Cikal dan Rakata, UI dengan Garuda Kevasha dan Kalabia, UGM dengan Semar Proto dan Semar Urban dan tim Politeknik negeri Pontianak (Polnep) dengan mobil Khatulistiwa Line.

Dalam ajang tersebut, mahasiswa Indonesia menoreh prestasi yang membanggakan.


Mesin ITS 4 mendapatkan Grand Prize (juara utama) di kelas internal combustion dan Cikal ITB meraih Grand Prize di Urban Gasoline Award.

Selain menyabet Grand Prize, Tim Mesin 4 yang mencatat jarak tempuh 150 km per liter menggunakan bahan bakar biodiesel (fatty acid methyl ester/FAME), juga menjadi pemenang Alternative Diesel Award (penghargaan bahan bakar diesel alternatif).

Tim Cikal ITB dengan 117 km per liter selain mendapat Grand Prize di
kategori Urban Gasoline, juga meraih Silver Award untuk kategori Internal Combustion Urban.

Selain berjaya di kelas Urban, tim Indonesia juga mendapat 2 penghargaan di kategori Off- Track yakni tim Semar Proto Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi terbaik di bidang Technical Innovation (Inovasi Teknik), sementara tim Rakata dari ITB meraih Communications Award.


Namun sayang, saat mobil ini diboyong ke Indonesia malah harus tertahan lebih dulu di Pelabuhan Tanjung Priok.



(ddn/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads