Tidak Dibenahi, Jalanan Jakarta Kusut pada 2015

Tidak Dibenahi, Jalanan Jakarta Kusut pada 2015

- detikOto
Selasa, 26 Jul 2011 12:56 WIB
Tidak Dibenahi, Jalanan Jakarta Kusut pada 2015
Jakarta - Perkembangan ekonomi tentu akan berimbas pada sektor otomotif yang pada akhirnya membuat populasi kendaraan terus berkembang. Jika lalu lintas tidak dibenahi penumpukan kendaraan bakal menjadi momok menakutkan masyarakat.

Apabila jalanan dan infrastrukturnya tidak dibenahi, niscaya Jakarta bakal macet total pada 2015.

Pemerintah pun harus bertindak seperti membuat peraturan yang mengatur agar kendaraan tidak hanya berkonsetrasi di kota-kota besar melainkan juga di area lain.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Perkembangan ekonomi dan infrastruktur yang memungkinkan untuk mendistribusikan populasi kendaraan tidak hanya berkonsentrasi di kota-kota besar melainkan juga di area lain. Tujuannya untuk memecahkan kemacetan di Jakarta," kata Presiden Direktur PT Mercedes-Benz Indonesia Rudi Borgenheimer di sela-sela acara symposium di arena IIMS, JI Expo, Kemayoran, Jakarta, Selasa (26/7/2011).

Menurut Rudi kondisi jalanan Jakarta bakal bertambah kusut jika pemerintah tidak serius menangani fenomena tersebut. Terlebih jika ada penambahan ruas jalan dan jalan layang.

"Perkembangan jalan layang di Jakarta hanya 0,1 persen pertahun sementara perkembangan mobil mencapai 8 persen pertahun. Itu termasuk 2,4 juta mobil dan 4,3 juta kendaraan motor. Karenanya pemerintah Indonesia harus bertindak," ucapnya.

Selain itu faktor keselamatan menjadi hal penting untuk pengendara motor. Pemerintah pun harus menerapkan kebijakan untuk mengutamakan keselamatan pengguna jalan. "Kebijakan hukum yang mengutamakan keselamatan," pungkasnya.

D isamping itu ia menyarankan terkait dengan pendapatan negara, pemerintah harus mengutamakan pembangunan insfrastruktur jalan untuk pertumbuhan ekonomi.

"Pemerintahan harus mengutamakan anggaran untuk pertumbuhan ekonomi. Perkembangan dari standarisasi Indonesia yang mengacu pada standar-standar Internasional. Serta iklim investasi yang lebih baik untuk dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam dengan mengurangi birokrasi dan tugas-tugas pemantauan pajak dan lain-lain," pungkas Rudi.

(ikh/ddn)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads