×
Ad

Dunia Pontang-panting Bersaing dengan Mobil Listrik China

Doni Wahyudi - detikOto
Kamis, 28 Mei 2026 10:45 WIB
Xiaomi jadi salah satu pendatang baru di industri otomotif China yang langsung diperhitungkan (Foto: Dok. Xiaomi)
Jakarta -

Toshihiro Mibe tidak menyembunyikan kekaguman dan -- di saat bersamaan -- kecemasannya. CEO Honda itu baru berkunjung ke sebuah pabrik di Shanghai, dan yang dia katakan di hadapan media Jepang sangat mengejutkan dari seorang bos perusahaan sebesar Honda: "Kita tidak punya peluang melawan ini."

Pengakuan terhadap kemajuan teknologi China itu sejatinya bukan sebuah kejutan besar. Jim Farley, CEO Ford, malah lebih lugas lagi. Menurutnya, buat pabrikan Barat (Eropa dan Amerika Serikat), berkompetisi dengan brand China bukan sekadar persaingan biasa. "Ini adalah pertarungan untuk bertahan hidup," katanya beberapa waktu lalu.

Dua pernyataan itu cukup menggambarkan betapa besarnya pergeseran yang sedang terjadi di industri otomotif dunia. Auto China 2026 yang digelar bulan lalu di Beijing bukan sekadar ajang etalase atau jualan kendaraan. Itu adalah gambaran realita baru: China sudah jadi penentu arah industri otomotif dunia, bukan lagi pengekor seperti 10 tahun lalu.

Launching Omoda O4 di Beijing Autoshow 2026 Foto: Doni Wahyudi/detikoto

Bukan Cuma Soal Mobil, Tapi Teknologi Tinggi

Hampir di seluruh dunia penjualan mobil listrik asal China melonjak. Tapi lebih dari itu, keunggulan China bukan cuma sebatas mobil listrik. Negara tersebut sudah sangat maju dalam hal teknologi tinggi, yang kemudian diaplikasikan pada produk-produk mobilnya.

Bill Russo, analis otomotif berbasis di Shanghai, mengamini kondisi tersebut. "Kesalahan terbesar yang dilakukan dunia maju adalah percaya bahwa transisi ini hanya soal mobil listrik. (Padahal) ini soal siapa yang akan memimpin generasi teknologi mobilitas berikutnya," kata dia dikutip dari BBC.

Yang membuat penerimaan mobil China di banyak negara sangat baik bukan sebatas teknologi canggih yang ditawarkan. Semua tahu, mobil-mobil China punya banderol harga lebih murah dibanding banyak kompetitor.

International Energy Agency memperkirakan biaya produksi sebuah SUV listrik kecil di China setidaknya 30% lebih murah dibanding negara-negara maju. Ini didorong oleh harga baterai yang lebih rendah dan ekosistem suplai yang sangat terintegrasi.

Perlu diketahui, keunggulan tersebut tidak datang tiba-tiba. Pemerintah China menggelontorkan puluhan miliar dolar ke industri EV dan manufaktur baterai selama bertahun-tahun. Dukungan pemerintah China ini dikritik keras Uni Eropa dan Amerika Serikat, yang kemudian menerapkan beragam tarif untuk mobil asal China. Support pemerintah China itu dianggap mengganggu pasar, tapi hasilnya tidak bisa dipungkiri: ekspansi masif dan penurunan harga yang begitu agresif.

Pabrik BYD Zhengzhou, China. Foto: Doc. BYD China

Yang menarik, subsidi pemerintah bukan satu-satunya faktor utama ekspansi besar-besaran brand China ke seluruh dunia. Persaingan internal di pasar domestik China sendiri yang memaksa inovasi dani invasi bergerak makin cepat.

Bukan cuma BTD, Geely, Aion dan sederet merek otomotif lain yang bersaing memperebutkan pasar dalam negeri China. Kompetisi makin ketat seiring masuknya Xiaomi, Huawei, Alibaba ke bisnis mobil listrik ini. Mereka yang sebelumnya dikenal sebagai perusahaan teknologi yang identik dengan smartphone dan e-commerce, kini memproduksi mobil dengan membawa DNA perusahaan teknologi konsumen.

"Mereka tidak lagi berlomba dengan (produsen) barat. Mereka berlomba dengan sesama mereka sendiri," tambah Russo.

Pabrik Xiaomi di luar Beijing bisa memproduksi satu unit mobil setiap 76 detik. Xiaomi baru meluncurkan EV pertamanya di 2024, tapi sekarang sudah masuk daftar merek terlaris di China.

Strateginya belum ada pada pabrikan lain: menghubungkan mobil dengan ponsel, aplikasi, dan perangkat rumah pintar dalam satu ekosistem.

Masih bicara teknologi, BYD mengembangkan sistem pengisian daya ultra-cepat. Mobil kini menempuh jarak hingga 400 km setelah dicas sekitar lima menit saja! Nyaris secepat isi bensin pada mobin ICE.

Model mobil listrik kedua Xiaomi, SUV listrik YU7. Foto: Xiaomi

Beberapa brand lain malah sudah mengembangkan teknologinya ke ranah robotik. XPeng menyebut robot humanoid dan mobil terbang sebagai prioritas perusahaan di samping EV.Chery Group punya langkah serupa. Menurut mereka, di masa depan orang akan lebih banyak punya robot dibanding mobil. Seperti Xpeng, Chery juga sudah punya divisi pengembangan robot dan AI sendiri.

"Dalam satu dekade ke depan, setiap perusahaan mobil juga akan menjadi perusahaan robotika,"kata CEO Xpeng, He Xiaopeng.

Senjakala Merek Barat di China

Selama puluhan tahun sebelumnya, merek-merek asing menguasai pasar domestik China. Namun situasinya berbalik kini. Masih dikutip dari BBC, brand-brand asing sampai tahun 2020 menguasai 64% market share, sementara di tahun ini angkanya menyusut jadi hanya 32% saja. Ini jadi kabar buruk buat General Motors dan Volswagen yang selama ini menjadikan pasar domestik China sebagai mesin uang utamanya.

Keunggulan China bukan sebatas pada mobil kelas bawah atau menengah. Segmen premium pun kini mulai dikuasai. Huawei Maextro S800 kini jadi sedan mewah terlaris di China untuk kategori di atas Rp 1,7 miliar. Tidak main-main, yang digusur adalah Porsche Panamera dan BMW seri 7, yang sebelumnya jadi raja pada segmen tersebut.

Satu hal yang menarik, pasar domestik China sebenarnya sedang mengalami perlambatan pertumbuhan. Kompetisi dalam negeri makin sengit lantaran terjadi perang harga dan kabarnya kelebihan kapasitas produksi. Ini yang kemudian membuat banyak brand melakukan ekspansi pasar secara agresif ke banyak negara, termasuk Asia Tenggara.

'Bergabung atau Makin Tertinggal'

Meski banyak negara mencoba menahan tsunami merek China ini dengan menerapkan tarif tinggi, toh ekspansi mereka tetap tak terbendung. Chery Jaecoo 7, misalnya, berhasil menjadi salah satu model baru terlaris di Inggris hanya dalam 14 bulan sejak diluncurkan. Capaian yang, beberapa tahun lalu, mungkin rasanya sulit dibayangkan dari merek yang hampir tidak dikenal di Eropa.

"Jika Anda menutup mereka dari satu pasar, mereka akan mencari pasar lain," kata konsultan James Pearson.

Geely EX2 Foto: Geely

Pernyataan menarik juga dilontarkan Russo. Dia bilang, brand yang mau berkolaborasi dengan merek asal China masih punya peluang. Tapi yang memilih untuk menghambat kebangkitan China justru berisiko makin ketinggalan.

Berlebihan? Bisa jadi tidak. Volkswagen kabarnya sudah membayar 700 juta dolar untuk mendapatkan akses ke arsitektur perangkat lunak dan sistem otonom XPeng. Volkswagen mengakui teknologi tersebut tidak akan bisa dikembangkan sendiri di Jerman dengan cukup cepat.

Stellantis juga sudah menandatangani kesepakatan senilai 1 miliar euro dengan Dongfeng untuk memproduksi model Peugeot dan Jeep di China, sekaligus membawa merek EV Voyah milik Dongfeng ke Eropa. Setali tiga uang dengan Toyota, Hyundai, Ford, dan Nissan, yang juga memperluas operasi riset di China, menggunakan sumberdaya lokal untuk pengembangan produk dan teknologi.



Simak Video "Video Fitur VPD Jaecoo Bisa Bikin Mobil Cari Parkir Sendiri!"

(din/sfn)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork