Namun menurut CEO Lamborghini Stephan Winkelmann kepada Top Gear, BBC, penggunaan hybrid sudah tak terelakkan lagi.
"Kita semua tahu apa yang harus kita lakukan. Di sana bisa kita lihat turbocharging dan plug-in hybrid. Tidak ada jalan lain, dengan menganggap peraturan tidak mengalami perubahan," ujar Winkelmann.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bahkan jika kami mendapatkan pengecualian--karena kami adalah produsen kecil-- ada juga isu mengenai penerimaan secara sosial. Segalanya sudah berubah saat ini. Masyarakat lebih sadar, lebih sentitif. Banyak konsumen kami yang pengusaha. Orang-oranga ini bukan hanya memiliki hasrat (untuk otomotif), tetapi mereka juga memiliki pemikiran yang tajam dan mereka tahu apa yang sedang terjadi di dunia," jelas Winkelmann.
Apalagi melihat fakta, mobil super mulai dari McLaren sampai Ferrari dan bahkan Porsche sudah menggunakan hybrid.
"Ada masalah persepsi, suka atau tidak, dan ketika Anda dianggap sebagai seorang penjahat Anda tidak lagi masuk dalam hitungan. Jadi kami perlu menyesuaikan, sambil tetap konsisten dengan merek kami," ujar Winkelmann lagi.
Upaya Lamborghini untuk konsisten pada mereknya pun bisa dilihat pada Asterion. Meski sebuah hybrid, mobil ini tetap galak. Mobil memiliki tenaga yang gila.
Gabungan mesin konvensional dan motor listriknya membuat mobil memiliki tenaga sampai 910 hp. Mobil pun bisa melaju sekencang 320 km per jam.
(ddn/ddn)












































Komentar Terbanyak
Habis Ngamuk Ditegur Jangan Ngerokok, Pemotor PCX Kini Minta Diampuni
Di Indonesia Harga Mobil Terkesan Mahal, Padahal Pajaknya Aja 40%!
Harga Mobil di Indonesia Terkesan Mahal, Padahal...