Ternyata kedua kecelakaan yang melibatkan remaja ini membuat orangtua menjadi takut.
Safety Driving Instructor di Sentul International Circuit Didi Hardijanto mengatakan kalau banyak orangtua yang prihatin pada kejadian-kejadian tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Didi lalu menjelaskan kalau pada dasarnya, remaja kalau sudah cukup usia boleh saja mengemudi mobil atau motor sendiri. Namun, orangtua harus sadar kalau mereka mesti membekali anak mereka dengan pengetahuan terkait cara mengemudi yang aman.
"Orangtua sekarang menunjukkan rasa sayangnya lebih ke kebendaan, materi. Membelikan kendaraan kalau anaknya sudah cukup umur boleh saja, tapi orang tua harus sadar kalau si anak juga harus diberi pemahanan, diajari cara berkendara yang baik dan benar agar aman di jalan," lugasnya.
Mengenai kasus kecelakaan Dul sendiri, Kepolisian masih menganalisis mobil Mitsubishi Lancer B 80 SAL yang dikendarai Dul. Chip elektronik di airbag sudah dikirim ke Jepang untuk mengetahui berapa kecepatan mobil Dul saat itu.
Chip elektronik di airbag diperlukan karena ECU di mobil sudah keburu rusak karena terkena cairan aki. Sehingga untuk mengetahui berapa kecepatan mobil harapan satu-satunya tinggal dari data di chip elektronik airbag tadi.
Mitsubishi menuturkan airbag dalam kondisi mengembang, itu berarti keduanya sudah mengenakan safety belt atau sabuk pengaman.
Karena jika sabuk pengaman tidak terpasang, sensor di airbag tidak akan mendeteksi keberadaan penumpang/pengendara sehingga tidak mengembang. Namun dari hasil foto-foto setelah kecelakaan, terlihat ada airbag yang terkembang.
Mobil itu menabrak pembatas jalan di tol Jagorawi pada Minggu 8 September.
(syu/ddn)












































Komentar Terbanyak
Permintaan Maaf Pemobil yang Konvoi Zig-zag di Tol Becakayu
Kebut-kebutan di Tol JORR, Endingnya Pajero Sport-BMW Ringsek!
Perpanjang STNK Tahunan dan 5 Tahunan, Duitnya Buat Apa?