HDCI: Kalau Macet, Pengendara Moge Harus Sabar

HDCI: Kalau Macet, Pengendara Moge Harus Sabar

- detikOto
Senin, 15 Jun 2009 12:26 WIB
HDCI: Kalau Macet, Pengendara Moge Harus Sabar
Jakarta - Arogansi pengendara motor gede (moge) kembali terjadi. Korbannya adalah Darmawan Edwin Sudibyo (51) dan keluarganya di kawasan macet di Puncak, Cisarua, Bogor.

Sekjen Harley Davidson Club Indonesia (HDCI) Pusat Joko Saturi mengimbau pengendara moge untuk mengerti jika lalu lintas sedang macet. Pengendara harus sabar.

"Naik motor gede (moge) sudah dapat perhatian orang, apalagi kalau membuat pelanggaran. Kalau lagi macet pengendara harus mengerti. Dibutuhkan kesabaran dan kearifan," ujar Joko Saturi dalam perbincangan dengan detikOto lewat telepon, Senin (15/6/2009).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Joko juga mengimbau agar masyarakat juga mengerti moge berukuran besar dan berat. "Diberilah kesempatan untuk lewat," katanya.

Joko menyatakan, Ketum HDCI Letjen Purn Suyono juga sudah memberikan pengarahan agar pengendara moge mengendalikan diri jika berada di jalan.

"Beliau tidak suka arogansi. Beliau juga bilang, kalau konvoi tidak usah banyak-banyak, maksimum lima kendaraan," jelasnya.

Seringnya pengendara motor gede (moge) melakukan tindak arogan di jalan dikeluhkan pimpinan Harley Davidson Club Indonesia (HDCI). Pimpinan HDCI capek dituntut tanggung jawab dari semua pihak.

"Nah itu dia capek ya. Saya betul-betul capek sampai diwawancara di mana-mana," ujarnya.

Joko menilai wajar jika masyarakat membenci pengendara moge. Meski demikian masyarakat dan pengendara moge dituntut sabar.

"Kalau menjadikan kebencian itu wajar tetapi masyarakat luar harus menyadari bahwasanya kendaraan Harley itu kan berat, CC-nya besar. Sebaliknya sebagai bikers seharusnya bersikap arif dan bijaksana," jelasnya.

Joko mengaku, HDCI selalu memakai vorrijder jika konvoi di jalan. Meski demikian, perlakuan arogan pengendara moge tergantung manusianya.

"Kalau orang arogan seperti itu nggak cuma pengendara motor besar, pengendara motor biasa juga banyak yang nyalahi peraturan seperti motong arah," kata Joko.

Joko tidak akan memberikan perlakukan khusus jika anggotanya yang notabene pejabat atau anak pejabat melanggar aturan. Semua diserahkan kepada pemeriksaan polisi.

"Apa pun baik pejabat, anak pejabat maupun warga negara biasa, kembali lagi kepada manusianya. Dia jalan ramai-ramai merasa gerombolan, kalau jalan sendiri berani nggak?" tanyanya.

Arogansi moge itu menimpa Darmawan Edwin Sudibyo (51) dan keluarganya pada 24 Mei lalu di kawasan Puncak sekitar pukul 16.00 WIB. Edwin mengendarai mobil Nissan X-Trail dari arah Cisarua menuju Jakarta. Bersama Edwin, ikut pula istrinya, Dian Fara (39), yang tengah hamil lima bulan, ketiga anaknya, serta ayah mertua, Syahrul Malik (70).

Joko tidak tahu apakah pelaku arogansi pada Edwin itu adalah anggotanya atau bukan. Dia menyerahkan kasus ini pada polisi. Polsek Cisarua sendiri kini tengah menyelidiki kasus ini.

(nik/ddn)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads