Mengintip Pemotor Bandel di Thailand

Laporan dari Thailand

Mengintip Pemotor Bandel di Thailand

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Selasa, 01 Nov 2016 16:54 WIB
Mengintip Pemotor Bandel di Thailand
Foto: Rangga Rahadiansyah
Phuket - Seperti halnya di Indonesia, pengguna sepeda motor di Thailand tak sedikit yang mengabaikan keselamatan berkendara. Masih banyak pelanggar aturan lalu lintas di negeri itu.

Dari pantauan detikOto selama 3 hari di Phuket, Hat Yai dan Sadao, Thailand, banyak pemotor di Negeri Gajah Putih itu yang tidak memakai helm saat mengendarai sepeda motor di jalan raya. Ada juga yang hanya menggunakan helm yang tidak menutupi bagian telinga (helm cetok).

Menurut Deputy General Manager Business Planning Division, Safety Riding Promotion Division AP Honda Thailand, Akradech Rodsiravoraphat, Thailand menjadi salah satu negara yang memiliki angka kecelakaan tertinggi di dunia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kecelakaan di dunia, Thailand nomor 2. Pertama Libya. Tahun lalu lebih dari 20.000 meninggal dunia (akibat kecelakaan lalu lintas)," kata Akradech ditemui detikOto di Phuket, Thailand.

Sama seperti negara-negara lain pada umumnya, Thailand juga mengharuskan pengendara sepeda motor untuk menggunakan helm. Tapi, kata Akradech, masih ada sekitar 34 persen pengendara di Thailand yang tidak menggunakan helm.

"Tentu AP Honda terus berkampanye untuk membuat 34 persen orang itu sadar menggunakan helm. Kami bekerja sama dengan organisasi masyarakat. Pertama kami jadi role model. Seluruh pegawai Honda harus menggunakan helm. Bukan hanya pakai helm saat mereka pergi ke kantor, tapi di setiap kegiatan riding mereka, setiap hari, di mana pun kita berkampanye dengan itu," katanya.

"Untuk mencapai 100 persen patuh itu memang sulit. Di Jepang saja yang sudah ketat masih 95 persen. Tapi yang pasti kami berupaya secara bertahap untuk mencapai pengendara yang lebih baik," tambah dia.

Mereka yang tidak pakai helm, kata Akradech, selalu saja punya alasan. Beberapa alasannya adalah mereka kepanasan atau jarak yang ditempuh cukup pendek.

"Dan di jalurnya yang dia lewati mungkin tidak ada polisi. Karakternya memang sulit untuk diinformasikan, makanya kita punya role model untuk bekerja sama dengan sekolah-sekolah dan komunitas," ujarnya. (rgr/ddn)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads