Pemotor di Luar Jakarta Lebih Galak Lagi

Pemotor di Luar Jakarta Lebih Galak Lagi

Dadan Kuswaraharja - detikOto
Senin, 03 Jun 2013 13:28 WIB
Pemotor di Luar Jakarta Lebih Galak Lagi
Ilustrasi Motor di Bandung (Foto Pembaca)
Jakarta - Kelakuan pemotor galak bukan hanya terjadi di Jakarta. Bahkan di daerah, mereka lebih galak dari pemotor di Jakarta.

Setidaknya itu yang dirasakan oleh Otolovers, Erwin Suryadharma. Erwin yang baru pindah ke Bandung ini sudah beberapa kali disemprot pemotor galak.

"Dulu, sebelum saya pindah, saya berpikir bahwa kondisi di jalan raya khususnya para pengendara motor di Bandung nantinya akan lebih baik dari Jakarta. Setidaknya saya berpikir kondisi pengendara motor akan lebih sabar dibandingkan di Jakarta. Tetapi kenyataannya boleh dibilang mengerikan. Pengendara motor di Bandung ternyata lebih ngawur, tingkat egoisnya sangat tinggi, dan malah lebih galak ketimbang di Jakarta," tuturnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kalau soal tetap menyalip dari kiri walaupun sudah memberikan lampu sein ke kiri sudah tidak terhitung banyaknya. "Yang bikin lebih parah, kalau di Jakarta kita mendapati pengendara motor memaksakan diri menyalip atau menyelip di antara kendaraan, di Bandung sini malah sifat tersebut tetap ada dan lebih parah. Meskipun celah di antara mobil secara logika sudah tidak memungkinkan motornya lewat, si pengendara tetap memaksakan lewat sampai akhirnya bagian motor menyenggol bodi mobil," ujarnya.

Kondisi pengendara memaksakan lewat ini juga sering terjadi ketika dari arah berlawanan, si motor hendak melewati mobil, tetapi kondisinya masuk ke jalur berlawanan yaitu jalur yang sedang ditempuh, dengan timing yang sebenarnya gak pas dan sangat membahayakan, sang motor dengan "ngototnya" memaksakan lewat sampai harus membahayakan mobil lain.

"Soal lainnya adalah pemotor yang berjalan melawan arus lalu lintas, sudah pasti banyak ditemui di kota Bandung. Bahkan dalam tingkat ekstrem, seperti saya alami di Jl Setiabudi, saya tidak tahu apa yg ada di dalam benak si pemotor pada saat itu, saat saya melewati lampu merah Geger Kalong ke arah atas, tiba-tiba ada sebuah sepeda motor yang turun dari arah atas di jalur yang berlawanan tapi berjalan di tengah-tengah jalan dan sangat mengejutkan semua pengemudi mobil," ujarnya.

Erwin pun sempat menghitung berapa kali pemotor menyenggol bodi mobilnya di Jakarta dan di Bandung.

Di Jakarta menurutnya paling di kisaran antara 5 kali sampai 10 kali. "Anehnya di Bandung, dalam waktu sebulan aja mobil saya sudah disenggol pemotor sampai 5 kali," ujarnya.

Dirinya menilai kebanyakan pengendara sepeda motor menganggap bahwa mereka hanyalah mengendarai sebuah sepeda yang tidak dikenakan aturan lalu lintas.

"Bahkan pemotor tersebut saya yakin tidak memahami aturan lalu lintas sama sekali. Saya yakin sekali kondisi ini terjadi karena pertama tingkat pendidikan dan yang kedua adalah sistem yg digunakan untuk memperoleh SIM yang masih banyak kelemahan," ujarnya.

(ddn/ddn)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads