Kamis, 10 Jan 2019 10:10 WIB

Cerita Keluarga Eelco Awali Keliling Dunia Pakai Pajero Pelat B

M Luthfi Andika - detikOto
Pajero Sport yang dipakai Eelco dan keluarga untuk keliling dunia. Foto: Instagram/Journey of Wonder Pajero Sport yang dipakai Eelco dan keluarga untuk keliling dunia. Foto: Instagram/Journey of Wonder
Jakarta - Eelco sekeluarga memutuskan untuk keliling dunia dengan mengendarai mobilnya. Perjalanan pun dimulai dengan menjelajahi Malaysia.

Eelco dan keluarga keliling dunia pakai Pajero Sport berpelat nomor Jakarta. Satu keluarga ikut diboyong semuanya. Eelco Koudijs (Ayah), Vryedta Ilfia Koudijs (Ibu), beserta putri-putra mereka Raneshsya Abelona dan Bramantyo Aditya.

"Kami dikejar deadline keberangkatan karena jadwal trip melintasi China sudah fixed, tidak bisa mundur lagi. Dan jadwal tersebut berhubungan dengan pengiriman mobil dari Jakarta ke Pontianak dan kemudian dari Kuching ke Port Klang. Meleset 1 hari saja akan berdampak panjang," tulis Eelco.

"Sebenarnya kami masih butuh waktu minimal 3 minggu untuk menyelesaikan semua persiapan, tapi memang tidak ada pilihan. Waktu kami banyak terbuang akibat mencoba seluruh alternatif dalam memilih mobil yang akan kami gunakan. Sehingga di saat pilihan sudah tidak ada selain menggunakan Cappuccino (sebutan untuk mobilnya), waktu sudah sangat mepet sementara pengurusan surat-surat serta memodifikasi mobil tetap harus dilakukan. Ini yang paling menguras tenaga, waktu dan pikiran diwaktu yang sangat pendek tersebut," tambah Eelco.

Dan, setelah hampir 2 minggu kurang tidur, tepat tanggal 13 Juli 2018, Eelco dan keluarga memulai perjalanan panjang bersejarah. Mereka akan melintasi setidaknya 35 negara dalam 1 tahun.

"Pukul 03.00 WIB pintu rumah diketuk, saat dibuka sejumlah teman-teman dari Caldera memberi surprise. Mereka datang pukul 03.00 pagi untuk membantu mengangkat seluruh barang, memasukkannya ke mobil dan melaju cepat menuju Bandara. Thanks god ..., that's what real friends are like," cerita Eelco.



"Cappuccino sudah berangkat terlebih dahulu 5 hari yang lalu dengan menggunakan kapal roro dan sudah tiba dengan aman di Pontianak. Kami berempat terbang menyusul ke Pontianak dengan menggunakan Garuda pukul 05.00 WIB dini hari. Tanpa bantuan teman-teman Caldera, pasti kami akan tertinggal pesawat. Sampai di pesawat, Kami berempat tertidur kelelahan di dalam pesawat," katanya.

Akhirnya mereka tiba di Pontianak. Mobil mereka pun sudah menunggu di dalam kapal.

"Semua mobil sudah diambil pemiliknya, hanya tersisa Cappuccino didalam kapal tsb. Proses serah terima berjalan cepat dan tanpa kendala. Kami langsung memasukkan semua barang kedalam Cappuccino. Aturan mengirim barang dengan menggunakan kapal roro adalah, semua barang mesti terkunci rapi. Jika ada barang yang bergeletakan didalam mobil, umumnya akan hilang," kata Eelco.

"Tidak bisa semua barang kami kunci didalam mobil, karena peti tempat seluruh "harta karun", ternyata pembuatnya salah ukuran. Butuh tambahan 3 hari untuk membuat yang baru. Jadi peti berangkat bersama kami, Karenanya barang yang kami bawa dipesawat sangat banyak dan konsekuensinya overweight. Pukul 10.00 pagi, semua urusan packing darurat di atas kapal roro sudah selesai, kami langsung meluncur menuju perbatasan Indonesia - Malaysia, Entikong melalui trans Kalimantan. Jalan trans Kalimantan saat kini sudah jauh lebih mulus dibanding beberapa tahun lalu saat saya ikut tim "Women Across Borneo". Saat itu masih banyak jalanan dengan medan yang rusak dan aspalnya pun banyak yang berlubang. Dulu, terasa sekali perbedaan wajah Malaysia dan Indonesia di areal perbatasan ini," tambahnya.

Menurut rencana keluarga Eelco, mereka harus mengejar waktu untuk bisa sampai Kota Kuching sebelum pukul 17.00, agar bisa menyerahkan mobil kepada pihak cargo. Karena Cappuccino mesti ikut kapal lagi dari Kuching menuju Port Klang. Perkiraan waktu tempuh Pontianak Kuching adalah 7 jam, jadi memang waktu keluarga Eelco sangat-sangat ketat. Terlebih bagian yang sulit di Malaysia ialah melewati perbatasan.

"Bagaimanapun kami berusaha mengejar waktu dan menyetir bergantian tanpa istirahat, ternyata kami baru bisa mencapai border (Entikong) pukul 16.30 sore. Berlari-lari mengurus cap keluar Indonesia di passport dan carnet (passport khusus mobil) di petugas yang berbeda sudah menghabiskan waktu 15 menit. Tersisa waktu 15 menit lagi untuk mengejar masuk Malaysia," katanya.

"Saat kami memasuki gerbang imigrasi Malaysia petugas sudah bersiap tutup. Cap untuk masuk Malaysia di passport kami sudah selesai, tinggal cap di passport Cappuccino yang belum. Petugas sudah menutup rolling door, dan wajahnya sudah mulai kurang ramah. Untung waktunya pas-pasan, meskipun mesti menghadapi wajah kurang ramah petugas. Kami segera kontak ke pihak cargo bahwa kami tidak bisa on time tiba di Kuching, karena dari Entikong menuju Kuching membutuhkan waktu 1,5-2 jam. Untungnya pihak cargo bermurah hati. Mereka mengizinkan untuk menerima mobil hingga sabtu esok harinya paling lambat pkl 12.00 siang," katanya.



Masih bisa bernafas lega, namun tetap mengejar perjalanan ke kota Kuching yang tersisa 2 jam mengemudi, keluarga Eelco pun sangat lelah dan tegang. Namun tetap mesti dijalani dengan bersyukur. Bayangkan jika pihak cargo tidak mau menerima mobil yang digunakannya untuk keliling dunia.

"Kami tiba di kota Kuching pkl 20.30. Langsung check in di Majestic Riverside Hotel, makan malam cepat dan tidur kelelahan. Bangun pagi hari dengan badan yang masih pegal-pegal dan lemas. Setelah makan, mesti langsung re-packing cepat dan mengantar Cappuccino ke pihak cargo. Ternyata packing sekian banyak barang agar bisa terkunci didalam peti dimobil, sangatlah tidak mudah. Kami baru bisa menyelesaikan packing jam 11.00 siang. Langsung meluncur menuju cargo," katanya.

"Tapi ada yang aneh, nama kantor cargo tersebut berbeda dengan nama kantor yang selama ini kami kontak. Keanehan semakin terasa, setelah kami serahkan Cappuccino, sang staff menjelaskan bahwa kapal baru akan jalan tgl 17 Juli (semestinya tgl 15 Juli 2018), mobil sendiri baru bisa masuk kapal tgl 16 pagi, saat itu masih tgl 14 Juli pagi. Lalu kenapa kami mesti diburu-buru sampai kami begitu tegangnya. Hal lainnya, jika jadwal kapal mundur, bagaimana dengan jadwal kami. Itu berarti jadwal kami juga berubah banyak, karena mundur 2 hari dari rencana semula. Banyak dari rencana yang mesti dirombak dan itu tidak mudah," tambahnya.

Tidak semulus yang perkiraan, karena memang ada saja petugas yang 'nakal'.

"Kelihatannya, petugas di cargo yang pertama 'bermain belakang' dan menyerahkan kami pada temannya di perusahaan cargo lain. Karenanya kami tidak bisa ikut sesuai jadwal awal, tapi ikut di kapal yang berbeda. Protes kami tidak digubris, jika kami tidak suka, ya silakan cari kapal lain dan mengingat itu membutuhkan waktu maka kemungkinan kami akan dapat jadwal kapal yang lebih mundur lagi. Jadi ya, terpaksa tutup mulut dengan kesal. Sore itu kami habiskan dengan utak atik ulang planning kami dan mengatur rencana baru karena penambahan hari yang menggantung tanpa Cappuccino," ujarnya.



"Tanggal 15 Juli 2018, kami punya tambahan waktu di Kuching. Karenanya berkesempatan untuk melihat Rainforest World Music Festival 2018 seharian penuh di Serawak cultural village, sebuah taman dengan contoh2 rumah Dayak dari 9 suku Dayak yang berbeda. Festival music yang luar biasa menurut kami. Berpindah dari 1 stage ke stage lainnya yang menampilkan pemusik-pemusik dunia yang sangat keren itu benar-benar mengasyikkan. Raneeshya sangat antusias untuk bisa melihat seluruh stage. Stage yang paling menarik adalah saat Flamenco yang berasal dari Spanyol berkolaborasi dengan musisi dari Rajahstan, sangat luar biasa. Para musisi banyak yang tidak bisa berbahasa Inggris, tapi dalam waktu 30 menit mereka bisa menghasilkan pertunjukkan yang sangat luar biasa. Ini menjelaskan bahwa music adalah bahasa Universal," tambahnya.

Perjalanan di Kuching akhirnya ditutup dengan keliling Kuching.

"Hari berikutnya, kami berkesempatan untuk sightseeing kota Kuching. Ke Semanggoh Wildcare Centre dan River Front. Bagi anak-anak, melihat Semanggoh Rehabilitation Centre, di mana para Orang Utan yang diselamatkan dari tangan manusia, dilepas di hutan setelah dipersiapkan untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan hutan, sebenarnya, benar-benar hal yang positive. Memahami kehidupan orang utan dan perbedaannya dengan kera / monyet hal lainnya yang bagus untuk pengetahuan mereka," tambahnya. (lth/rgr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com