Selain perjalanan mudik yang relatif lebih lancar, banyak akses jalan tol baru, juga pemandangan baru yang indah yang dapat dinikmati.
Namun hal-hal menyenangkan tersebut kadang dirusak oleh perilaku berlalu lintas beberapa pengemudi yang ditemui selama perjalanan. Bertambahnya volume mobil-mobil baru tentu diikuti dengan banyaknya pengemudi baru atau pemula.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mereka memang bisa mengemudikan mobil dengan baik, tetapi sedikit yang memahami dengan baik etika dan sopan-santun berlalu lintas.

Menggunakan mobil pribadi, penulis mudik dari Jakarta ke Solo lewat jalur tol Trans Jawa. Kembali ke Jakarta menggunakan jalur lintas Selatan melewati Yogya, Purwokerto, lanjut ke lintas Utara masuk di gerbang tol Pejagan.
Jadi hampir sebagian besar (sekitar 60-70%) perjalanan mudik dan balik menggunakan akses jalan tol. Berikut beberapa contoh perilaku pengemudi yang menyebalkan dan merugikan yang sering ditemui selama perjalanan mudik dan balik Lebaran tahun 2018 ini:
1. Berhenti di Bahu Jalan
Foto: Pemudik istirahat di bahu jalan bikin macet (istimewa)
|
Banyak alasan pemudik berhenti di bahu jalan tol, mulai untuk beristirahat, buang air kecil, untuk keperluan anak (bikin susu, ganti pampers, dsb), ada penumpang yang sakit (mual-muntah, pusing, dsb), bahkan tren sekarang orang berhenti di bahu jalan tol untuk ambil foto-foto pemandangan dan background yang indah atau unik.
Sebenarnya sudah banyak rest area yang disiapkan pengelola jalan tol selama arus mudik Lebaran 2018 lalu. Pada umumnya setiap jarak 10 km terdapat area beristirahat di sepanjang jalur tol Trans Jawa Jakarta- Solo.
Jika masih kurang, ada kantong-kantong parkir tambahan yang bisa digunakan untuk sekedar parkir mobil dan beristirahat sejenak.
Bahu jalan tol memang tersedia untuk kondisi darurat. Tapi jika banyak digunakan untuk sekedar istirahat atau bahkan foto-fotoan, hal ini dapat menyebabkan lalu lintas tersendat karena kendaraan melambat. Belum lagi adaya resiko bahaya tabrak belakang, mengingat masih banyak pengemudi yang tidak tertib aturan dengan menggunakan bahu jalan tol untuk mendahului kendaraan lain.
Alasan pengemudi tidak mau masuk ke rest area diantaranya: rest area ditutup karena penuh, parkir penuh, toilet antri, rest area masih jauh.
Ini bisa jadi masukan bagi pengelola jalan tol untuk perbaikan kedepan. Namun untuk keselamatan kita sendiri, jika perlu berhenti sejenak di jalan tol, agar lebih aman gunakan tempat istirahat yang disediakan. Agar laju kendaraan di jalan tol lebih lancar buat semua.
2. Merokok dan Membuang Putung Rokok Sembarangan
Foto: Mindra/Infografis
|
Merokok memang hak setiap orang, tetapi bukan berarti orang yang merokok berhak untuk mengganggu dan merugikan orang lain. Ketika merokok sambil mengemudikan mobil, kebanyakan pengemudi akan membuang abu rokok melalui jendela mobil.
Ketika mobil dalam posisi berhenti karena jalan macet, abu rokok yang ringan akan beterbangan mengikuti arah angin bertiup. Ketika mobil melaju sedang, abu rokok terbang mengarah ke belakang. Apes buat mobil di belakangnya, kap mesin atau kaca depan jadi asbak penampung abu rokok.
Yang lebih menyebalkan, ketika malam hari di lajur jalan tol Cipali paling kanan, pada kecepatan yang cukup tinggi 80-100 km / jam, ada pengemudi membuang begitu saja putung rokok menyala.
Meski bara api kecil, ketika dibuang pada kecepatan tinggi, bara api akan membesar karena kencangnya tiupan angin. Hal ini sangat membahayakan. Selain dapat membakar rumput dan tanaman kering di sekitar jalur tol, bagi pengemudi mobil di belakang, bara abu rokok itu ketika menyentuh aspal seperti bom molotov kecil yang membara. Mengagetkan dan terasa melecehkan buat mobil di belakang.
![]() |
3. Mengemudi Pelan di Jalur Cepat
Foto: Raja Adil Siregar/detikcom
|
Pelan-pelan setelah melewati beberapa mobil, akhirnya sampai juga ke sumber masalahnya. Ternyata paling depan ada mobil yang sedang jalan "santai" di lajur kanan, alhasil menghambat laju mobil yang lebih cepat di belakangnya dan kepadatan lambat untuk mencair.
Jika diamati, kepadatan saat mudik tidak bisa cepat mencair karena selepas kemacetan, mobil yang tadinya hanya bisa berjalan lambat di lajur kanan, ketika jalanan mulai lancar mobil itu tetap saja berjalan pelan dan tidak segera pindah jalur ke kiri.
Idiom "jaga jarak aman kendaraan" bisa diterapkan dalam situasi ini. Jaga jarak bukan hanya menjaga jarak aman untuk antisipasi ketika mobil di depan mengurangi kecepatan (rem) secara mendadak. Tetapi jaga jarak juga berarti imbangi kecepatan mobil anda dengan mobil di depan anda.
Jika mobil anda melaju di lajur paling kanan dan jarak mobil anda mulai tertinggal dari mobil di depan, atau 2-3 mobil mulai mendahului anda dari lajur kiri, sebaiknya segera pindahkan mobil anda ke lajur sebelah kiri.
Jangan menjadi penghambat atau penghalang bagi mobil lain yang lebih kencang dan jadilah bagian solusi untuk lalulintas yang lebih lancar.
4. Pindah Jalur tanpa Menyalakan Lampu Sein
Foto: Lamhot Aritonang
|
Bagi banyak pengemudi mungkin merasa hal yang sepele, tetapi menyalakan lampu sein adalah bagian penting dari keselamatan dan etika berlalu lintas.
Saya ingat, pada waktu kecil sering diajar orang tua jika berjalan lewat di depan orang yang sedang duduk harus bilang "permisi" sembari sedikit membungkukkan badan dan tangan kanan diposisikan di depan badan.
Menyalakan lampu sein ibarat seperti mengatakan "permisi" kepada pengemudi kendaraan lain ketika hendak mendahului atau memotong jalur mobil lain.
Kita seperti orang yang tidak diajar dan tahu sopan santun jika sering kali memotong dan pindah jalur tanpa menyalakan isyarat lampu sein terlebih dahulu.
Selain untuk etika berlalu lintas, menyalakan lampu sein juga sangat penting untuk keamanan dan keselamatan berlalulintas. Lampu sein memberikan info kepada pengemudi lain jika mobil kita hendak masuk ke rest area, atau hendak keluar dari jalan tol, atau berpindah lajur.
Sehingga pengemudi mobil lain dapat mengantisipasi dan memberikan jalan. Banyak pengemudi yang beralasan bahwa, "Kalau saya nyalakan lampu sein, justru saya tidak dikasih jalan!" Hal ini benar dan sering juga ditemui.
Tetapi jangan menjadi hambatan untuk kita mengemudikan mobil dengan sopan santun dan tetap mengutamakan keselamatan berlalu lintas.
5. Boros Menggunakan Lampu Jauh/Dim
Foto: Twitter TMCPoldaMetro
|
Lah, apakah pengemudi tersebut tidak melihat ada mobil di depan mobil saya, dan masih banyak mobil lagi berjalan beriringan di depan? Memangnya kita disuruh nabrak mobil di depan? Atau mobil kita disuruh minggir? Setiap orang juga punya keperluan dan semua juga tahu semua jalur jalan tol sedang padat.
Lampu dim, sebagaimana lampu sein dan klakson adalah sarana berkomunikasi antar pengemudi kendaraan. Ibarat mulut bagi manusia, lampu dim bisa digunakan sebagai sarana untuk "berbicara" dengan pengemudi kendaraan lainnya.
Gunakan lampu dim dan membunyikan klakson hanya ketika diperlukan. Jangan gunakan lampu dim dengan boros. Ketika kita banyak bicara tidak pada tempatnya, sering dibilang sebagai "nyinyir, lebay, banyak bacot, dan sebagainya..." Demikian juga jika terlalu sering menggunakan lampu dim, bisa mengganggu pengemudi mobil di depan dan membuat orang lain emosi.
6. Menggunakan Lampu Rotator/Strobo Biru
Foto: Istimewa/Instagram/tmcpoldametro.
|
Melaju kencang jauh dari belakang, sudah terlihat berkedip-kedip lampu warna biru. Semakin mendekat, akan ditambah dengan bunyi klakson seperti mobil dinas polisi, "tot-tot-tot..." dengan jarak yang sangat dekat di belakang mobil yang tidak mau minggir.
Benar-benar mengintimidasi. Ketika akhirnya mobil tersebut lewat, ternyata bukan mobil dinas, tetapi mobil pribadi yang memasang lampu strobo biru dan klakson khusus.
Mohon untuk Petugas Polisi Jalan Tol dapat menindak mobil-mobil pribadi yang menggunakan lampu rotator biru. Seperti Petugas Polisi Jalan Tol yang pada hari-hari biasa jeli menemukan pelanggaran dan menindak kendaraan angkutan barang, kiranya dapat menghentikan dan menindak mobil-mobil pribadi yang masih menggunakan lampu rotator / strobo biru. Agar ada efek jera serta tidak mengganggu pengguna jalan lainnya.
7. Mengganti Bohlam Lampu Rem Belakang dengan Lampu Kedip/Strobo
Foto: Istimewa/Instagram/tmcpoldametro.
|
dapat dengan jelas mengetahui posisi dan gerakan mobil di depannya.
Brake lamp itu digunakan pebalap jet darat terutama ketika hujan turun sangat lebat. Fungsinya untuk membantu pengemudi di belakang mobil agar terus bisa melihat dan memperkirakan jarak. Apalagi saat ini sudah jamak gelaran balap F1 dilakukan di malam hari.
Lampu rem F1 diatur jumlahnya hanya satu dan berbentuk segitiga yang tidak terlalu besar. Tetapi banyak pengemudi dan pemilik mobil mengganti semua lampu remnya dengan bohlam lampu rem kedip / strobo.
Dalam perjalanan mudik kemarin, saya menemukan selain lampu rem kiri kanan, lampu rem tengah atas (rear high mount stop lamp) pun diganti dengan bohlam lampu kedip. Bahkan ada beberapa mobil yang mengganti reflektor (mata kucing) di bemper belakang menjadi lampu rem
kedip!
Alhasil, penggantian bohlam lampu rem kedip tadi di sekujur bodi belakang mobil tersebut dijamin berhasil memberikan gangguan berarti pada mata pengemudi di belakangnya.
Berbeda situasinya dengan balapan F1 dimana lampu rem kedip hanya tunggal dan relatif kecil serta tidak ada macet di balap F1. Pada kondisi sehari-hari, banyak terjadi lalu lintas macet dan antrian panjang di gerbang pembayaran tol.
Seperti pada perjalanan mudik lalu, saya terjebak di belakang mobil yang telah menggunakan bohlam lampu kedip pada rem kiri-kanan, high mount stop lamp dan reflektor pada bemper belakang. Kondisi jalan padat dan mobil jalan merayap menjelang gerbang pembayaran tol di Palimanan. Selama lebih dari 30 menit saya tersiksa melihat ke depan lampu rem yang berkedip-kedip.
Bagi yang sudah dan/atau berniat mengganti bohlam lampu rem kedip untuk safety dan gaya, sebaiknya jangan lakukan karena hal ini sangat mengganggu dan merugikan pengemudi di belakang kendaraan anda.
Kesimpulan & Penutup
Foto: Dwi Andayani/ detikcom
|
Dari beberapa catatan diatas, jika dirangkum, maka perilaku pengemudi yang menyebalkan pada dasarnya dapat disarikan pada tiga sikap berikut, yakni arogan, emosional dan tidak sabaran.
Jika dikaitkan dengan wacana pemberlakukan tes psikologi sebagai syarat untuk mendapatkan SIM, maka sepertinya wacana tersebut sangat tepat dan patut disambut dengan positif.
Asalkan prosedur dan alat tesnya ditetapkan dan dilakukan dengan benar, semoga dapat memberikan gambaran potensi perilaku pengemudi yang arogan, emosional dan tidak sabaran agar jumlah mereka dapat diminalkan bisa mengemudikan kendaraan di jalan raya.
Handoko
penikmat produk otomotif
handoko.gap@gmail.com
Komentar Terbanyak
Begini Pengakuan Polisi Sopir Rantis yang Lindas Affan Kurniawan
Pajak Mobil Indonesia Dicap Paling Tinggi Sedunia
Bayangin Aja! Pajak Toyota Avanza Rp 150 Ribu, Nggak Ada Gesek 5 Tahun Sekali