Cinta Aqsha pada Bus-bus

Cinta Aqsha pada Bus-bus

Purwo S - detikOto
Rabu, 15 Jul 2015 14:32 WIB
Cinta Aqsha pada Bus-bus
Pacitan - Aktivitas di terminal bus Pacitan, Rabu (15/7/2015) pagi mulai menggeliat. Iring-iringan bus Antar Kota Antar Provinsi (AKDP) datang silih berganti. Hilir mudik orang pun membuat lorong tempat penurunan penumpang penuh sesak. Belum lagi barang bawaan yang memakan tempat.

Gelombang kedatangan bus asal Jakarta biasanya terjadi dini hari. Namun lantaran kepadatan di jalur mudik yang berakibat macet, banyak armada kini datang terlambat. Tentu saja, waktu kedatangan di terminal pun ikut molor.

Di antara penumpang dan kendaraan yang menyemut, seorang remaja tampak berlarian. Langkahnya pontang-panting mengejar tiap bus yang berjalan menuju pintu keluar. Tangannya menenteng kamera saku.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sedetik kemudian langkahnya terhenti. Bersamaan bus merayap, remaja tambun berkacamata itu mengambil posisi jongkok. Kamera saku berwarna hitam diarahkan ke badan bus. Disusul bunyi 'klik’ bersamaan tombol pelepas rana disentuh.

Remaja itu bernama Aqsha Faja Muhammad (14). Dia pegiat Pacitan Bus Lover.

β€œBus itu ada nilai estetikanya baik dari body, type, maupun mesinnya. Itu yang membuat saya menyukai bus. Tantangan lainnya, memotret bus yang sedang berjalan itu nggak mudah lho,” ujar Aqsha ditemui detikOto di terminal bus Pacitan, Jl Gatot Subroto.

Hobi memotret bus membuat siswa kelas 2 SMPN 1 Pacitan itu rela menghabiskan waktu sepanjang hari di terminal. Musim libur sekolah saat ini membuatnya makin leluasa mencari obyek untuk dijepret. Hasil jepretan lalu diunggah di media sosial dan dibagi sesama anggota komunitas.

Selain berbagi foto, anggota komunitas pecinta bus juga biasa bertukar informasi. Saat momen mudik seperti saat ini, Aqsha dan teman-temannya menjadi relawan di terminal. Dirinya juga mencatat jumlah bus yang datang dan pergi. Data itu pun lantas diunggah ke dunia maya.

β€œData hasil liputan kita dipantau oleh rekan-rekan di kota lain. Mereka juga memberi kita informasi yang sama. Jadi istilahnya saling berbagi gitu lho,” imbuh remaja yang suka baca puisi ini.

Aktivitas Aqsha tak hanya sebatas memotret atau menulis. Saat bus tiba di peron dan menunggu pemberangkatan, dirinya tak segan naik ke atas bus dan membantu merapikan kursi, bersih-bersih, atau menata bantal. Dia tak berharap upah meskipun kadang awak bus memberinya.

Berkecimpung di dunia bus membuat Aqsha hapal karakter moda transportasi darat itu. Bahkan dirinya dapat mengetahui adanya gangguan hanya dengan mendengar suara mesin.

β€œWah, suaranya aneh ini. Nggak enak banget,” begitu celetuknya saat mendengar suara derit rem dari bus melintas di depannya.

Keberadaan relawan seperti Aqsha dirasakan sangat membantu pengola terminal. Ini terutama berkait penyebarluasan informasi mudik. Hanya saja, keberadaan mereka tidak tercatat di Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika.

β€œSelama ini kami welcome saja. Meskipun tidak melaporkan keberadaanya kepada kami, namun toh apa yang mereka lakukan positif dan membantu kelancaran tugas kita,” tutur Widy Sumardji, Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Pacitan.

Hingga 2 hari ke depan, arus mudik menuju Pacitan dipastikan melonjak. Aqsha dan kawan-kawan pun akan makin sibuk mengabadikan dan melaporkan momen demi momen. Karyanya akan tetap ditunggu para pemudik yang butuh panduan pulang ke kampung halaman.

(ddn/ddn)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads