1.Menggunakan ponsel
|
Ilustrasi (detikOto)
|
Apalagi jika menggunakan fitur BBM atau SMS, sudah banyak kejadian kecelakaan membuktikan hal ini. Yang juga berbahaya adalah menggunakan kamera ponsel untuk memotret. Penulis juga anggota klub otomotif.
Banyak rekan-rekan memasang picture profile berupa foto speedometer mobilnya, yang kebanyakan jarum speedometer sedang berada di atas angka di atas 150 km/jam!
Jika ingin menggunakan ponsel, lakukan ketika mobil berhenti menunggu lampu lalin menyala hijau. Atau ketika terjebak di tengah kemacetan, atau dalam kondisi darurat setelah menepikan mobil di posisi aman di bahu jalan.
2. Mengonsumsi miras atau narkotika
|
Kecelakaan maut di Tugu Tani
|
Banyak kecelakaan yang merenggut harta dan jiwa sudah terjadi. Mulai dari mobil tercebur di Bundaran HI hingga Kali Ancol.
Hingga kecelakaan maut di halte Tugu Tani yang merenggut 9 korban jiwa.
3. Merokok
|
|
Tapi itu dulu! Sekarang gaya tersebut sudah banyak ditiru pengemudi kendaraan pribadi, bahkan pengemudi sedan mewah buatan Eropa.
Pengemudi yang merokok hampir dapat dipastikan akan membuang puntung rokok sembarangan di jalanan. Mereka harus ingat bahwa jalanan bukan asbak.
Meskipun mereka membuang abu rokok ke bawah, jika dilakukan dari mobil yang berjalan, abu bukan jatuh ke bawah, tetapi terbang ke belakang.
Jadilah pengendara motor di belakang atau kap dan kaca mobil di belakangnya menjadi asbak. Anda yang menikmati rokoknya, orang lain yang Anda kasih abunya.
4.Tidak Jaga Jarak
|
ilustrasi
|
Akibatnya banyak kendaraan lain yang kemudian memotong masuk celah di depannya. Dalam kondisi jalan tol yang cukup padat, pengemudi seperti ini menjadi titik lemah. Ibarat rantai, ia adalah mata rantai yang lapuk dan sering putus.
Ibarat 4 pemain belakang sejajar dalam sepakbola, ia adalah back yang paling gampang dilewati penyerang lawan untuk mencetak gol berkali-kali.
Menjaga jarak berarti menjaga jarak aman jika terjadi pengereman mendadak, tetapi juga agar tidak diselip atau disisipin berkali-kali oleh kendaraan lain.
5.Penggunaan fog lamp
|
lampu fog
|
Sesuai namanya, lampu ini mestinya digunakan sebagai penerangan tambahan ketika cuaca berkabut atau hujan deras.
Tapi banyak pengemudi mobil terlalu boros menggunakannya. Keluar kompleks rumah pergi ke mini market menyalakan fog lamp. Keluar kantor menuju mall di CBD yang sama pakai fog lamp.
Berkendara macet-macetan di tol dalam kota yang terang-benderang pun nyalakan fog lamp. Yang lebih berlebihan, banyak yang mengganti lampu fog lamp dengan lampu HID dan menyalakannya sepanjang waktu.
6. Penggunaan Lampu Dim
|
ilustrasi
|
Jangan menggunakan lampu dim secara boros dan sembarangan. Misalkan ketika jalan tol padat dan terjadi konvoi panjang. Ketika pengemudi berkali-kali menyalakan lampu dim, pasti membuat jengkel pengemudi di depannya.
Kalau jalan macet, memang disuruh tabrak mobil di depannya? Ibarat seperti laki-laki yang cengeng, cerewet dan banyak cakap, seperti itulah mobil yang berlebihan menggunakan lampu dim.
7. Lampu Hazard
|
ilustrasi
|
Sangat boros dan berlebihan jika lampu hazard dinyalakan ketika turun hujan, masuk terowongan di JORR antara Kampung Rambutan dan Pasar Minggu, hendak memotong persimpangan jalan, dsb.
8. Lampu Sein
|
Lampu sein
|
Banyak pengemudi beraggapan (atau malas?) tidak perlu menyalakan lampu sein ketika hendak pindah jalur, mendahului kendaraan, keluar pintu tol, masuk pintu tol, masuk ke mall atau kantor, dan sebagainya.
Β Penggunaan lampu sein sangat diperlukan untuk kebutuhan tersebut dan akan sangat membantu pengendara lainnya. Toh bolam lampu sein juga tidak sering putus jika sering digunakan.
Salam
Handoko N. Soetrisno
Tinggal di Bekasi
Halaman 2 dari 9












































Komentar Terbanyak
Diklakson Gegara Lane Hogging, Sopir Yaris Ngamuk-Ngajak Ribut
Viral Lexus Berpelat RI 25 Potong Antrean di Gerbang Tol
Kursi Depan JakLingko untuk Prioritas, Tak Semua Orang Boleh Duduk