Pemerintah berencana menjalankan biodiesel B50 mulai 1 Juli 2026. Program ini dinilai bukan strategi ideal untuk menurunkan penghematan BBM dalam jangka panjang.
Institute for Essential Services Reform mencatat masalah utama terletak pada disparitas harga. Berdasarkan data Maret 2026, harga Indeks Pasar Fatty Acid Methyl Ester (FAME) berbasis CPO mencapai Rp 13.910 per liter. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan harga diesel konvensional yang hanya berkisar antara Rp 11.000 hingga Rp 12.100 per liter.
"FAME berbasis CPO saat ini 20% hingga 30% lebih mahal daripada minyak diesel konvensional," ujar Chief Executive Officer IESR, Fabby Tumiwa, dalam keterangannya, dikutip Senin (6/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kesenjangan harga ini semakin diperparah oleh lonjakan harga CPO global dan pelemahan nilai tukar rupiah. Kondisi tersebut memaksa pemerintah untuk merogoh kocek lebih dalam guna menambal subsidi.
Dia melanjutkan, berdasarkan harga Indeks Pasar FAME Maret 2026 pada angka Rp13.910/liter (belum termasuk ongkir), terdapat selisih signifikan dibanding harga diesel yang hanya berkisar Rp11.000-Rp12.100/liter pada asumsi harga minyak mentah dunia US$ 90-100/barel.
"Transisi ke B50 berpotensi meningkatkan subsidi biodiesel sebesar Rp29 triliun di atas alokasi B40, melampaui total penerimaan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) tahun ini," tambah dia.
IESR mencatat, peningkatan campuran dari B40 ke B50 membutuhkan setidaknya 20,1 juta ton FAME. Hal ini akan meningkatkan beban subsidi biodiesel sebesar Rp 29 triliun di atas alokasi pagu B40.
"Lonjakan ini berpotensi melampaui total penerimaan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) tahun ini. Terjadi risiko defisit anggaran subsidi yang tidak lagi mampu ditutup oleh pungutan ekspor," tambah Fabby.
Situasi ini dinilai kontradiktif: di satu sisi negara kehilangan pendapatan dari pajak ekspor, namun di sisi lain beban subsidi justru melonjak drastis.
"Penurunan ekspor ini memicu kehilangan penerimaan negara dari pajak dan bea keluar sebesar Rp11,9-14,6 triliun, sebuah kontradiksi kebijakan di mana negara kehilangan pendapatan justru saat beban subsidi melonjak," kata dia.
Alih-alih memaksakan B50, IESR merekomendasikan agar pemerintah tetap bertahan pada program B40. Berdasarkan kajian mendalam, B40 dianggap sebagai titik keseimbangan yang paling optimal antara penghematan impor, manfaat bagi petani, dan risiko fiskal yang masih terkendali.
Lantas, bagaimana cara efektif menurunkan konsumsi BBM dalam jangka panjang? Fabby menyarankan pemerintah untuk beralih ke strategi yang lebih agresif di sektor transportasi.
"Oleh karena itu IESR merekomendasikan agar pemerintah tidak melanjutkan program B50, dan tetap pada program B40. Upaya penurunan BBM dapat dilakukan dengan mendorong elektrifikasi transportasi secara agresif," kata dia.
"Untuk mendapatkan hasil optimal penghematan BBM dalam menengah dan jangka panjang, pemerintah perlu segera melakukan percepatan elektrifikasi transportasi kendaraan penumpang, bus, dan roda 2, mendorong penggunaan transportasi publik, perbaikan kualitas bahan bakar minyak dengan mengadopsi standar Euro-4 ke atas, dan peningkatan standar efisiensi bahan bakar kendaraan bermotor," jelasnya lagi.
Diberitakan detikcom sebelumnya, campuran 50% bahan bakar nabati/CPO dan 50% solar akan dimulai 1 Juli 2026. Langkah ini sebagai bagian dari penghematan BBM di tengah sulitnya pasokan minyak imbas perang timur tengah.
"Sebagai bagian dari kemandirian energi dan efisiensi energi, pemerintah menerapkan kebijakan B50, ini mulai berlaku 1 Juli 2026," ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto dalam Konferensi Pers Tentang Kebijakan Pemerintah dalam Mitigasi Risiko & Antisipasi Dinamika Global yang dipantau secara daring, Selasa (31/3/2026).
Airlangga mengatakan Pertamina juga telah siap untuk melaksanakan mandatori tersebut. Selain itu, kebijakan ini akan ada penghematan BBM berbasis fosil sebanyak 4 juta kiloliter per tahunnya.
"Tentu dalam enam bulan ada penghematan dari fosil dan ada penghematan subsidi daripada biodisel yang diperkirakan nilai Rp 48 triliun," terang Airlangga
Saksikan Live DetikSore :
(riar/rgr)












































Komentar Terbanyak
Ribuan Pikap India buat Kopdes Merah Putih Telanjur Masuk Indonesia
Warga Ngeluh Bayar Pajak Kendaraan Dipersulit, 'Nembak' KTP Asli Rp 700 Ribu
Konversi 120 Juta Motor Bensin ke Listrik Terancam Gagal, Cuma Jadi Ilusi