Macet Jabodetabek Bikin Rugi Rp 100 Triliun, Setara 6 Kali Bangun MRT

Macet Jabodetabek Bikin Rugi Rp 100 Triliun, Setara 6 Kali Bangun MRT

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Sabtu, 30 Agu 2025 10:50 WIB
Para pengendara melintas dengan pelan sekitar pukul 17.15 WIB di jalan Sudirman Jakarta Selatan, Kamis (28/9/2025). Suasananya terlihat normal seperti hari-hari lain pada jam pulang kerja kendati terdapat penutupan jalan di kawasan Gatot Subroto DPR RI akibat aksi unjuk rasa.
Macet Jakarta. Foto: Ari Saputra/detikcom
Jakarta -

Kemacetan di Jakarta masih menjadi tantangan serius. Akibat kemacetan ini, kerugian yang dialami cukup besar. Bahkan kerugiannya setara dengan enam kali biaya pembangunan MRT fase pertama.

Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta Rano Karno mengungkapkan, Jakarta punya tantangan serius dalam hal mobilitas, yatu kemacetan. Banyak dampak negatif yang ditimbulkan kemacetan, mulai dari kualitas hidup bahkan rugi materi.

"Hal ini menunjukkan pentingnya mendorong peralihan moda ke transportasi publik sebagai solusi jangka panjang. Kemacetan juga berdampak besar bagi kualitas hidup. Sektor transportasi menjadi penyumbang polusi udara terbesar. Kemacetan tidak hanya menghambat mobilitas, tapi juga mempengaruhi perekonomian, pariwisata, dunia usaha, bahkan kesehatan masyarakat," kata Rano dikutip dari keterangan tertulisnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari sisi ekonomi, Rano mengatakan, berdasarkan studi Bappenas dan Jabodetabek Urban Transportation Policy Integration (JUTPI) II pada 2019, kerugian akibat kemacetan di Jabodetabek mencapai Rp 100 triliun rupiah per tahun. Angka itu setara dengan empat persen Produk Domestik Bruto (PDB) Jabodetabek atau enam kali biaya pembangunan MRT fase pertama.

ADVERTISEMENT

Karena itu, ia menekankan, kolaborasi semua pihak sangat diperlukan sebagai upaya pengendalian kemacetan, serta didukung transformasi berbasis teknologi. Kini, Pemprov DKI Jakarta tengah mengembangkan Intelligent Traffic Control System (ITCS) berbasis AI yang sudah diterapkan di 65 titik dari total 321 persimpangan.

"Sistem ini membuktikan mampu menurunkan waktu tunggu kendaraan hingga 15-20 persen, sekaligus menjadi basis pengawasan pajak kendaraan dan emisi. Selain itu, kami berkolaborasi dengan Polda Metro Jaya melalui Mandala Quick Response yang memungkinkan pemantauan lalu lintas secara real-time berbasis GEI atau Geographic Information System yang terintegrasi dengan CCTV milik Dinas Perhubungan. Ke depan, sistem ini akan diperluas agar semakin banyak masyarakat yang dapat merasakan manfaatnya," jelasnya.

Kolaborasi dengan daerah penyangga Jakarta juga akan terus diperkuat melalui kehadiran Transjabodetabek. Rano mengajak seluruh masyarakat untuk lebih disiplin berlalu lintas dan beralih menggunakan transportasi publik.

"Itulah kenapa kami membuat program Transjabodetabek. Berusaha mengurangi kepadatan lalu lintas dan mempermudah mobilitas. Kalau kita ingin membuka jalur Transjabodetabek, artinya wilayah setempat harus dibuka juga jalurnya, inilah saatnya kita berkolaborasi. Saya percaya dengan kerja keras, kolaborasi, serta partisipasi aktif dari seluruh elemen, Jakarta mampu membangun sistem transportasi yang aman, nyaman, berkelanjutan, dan inklusif demi mewujudkan kota global yang membanggakan," pungkasnya.




(rgr/dry)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads