Beli Pertalite Pelat Mobil Bakal Dicatat, Ini Alasannya

ADVERTISEMENT

Beli Pertalite Pelat Mobil Bakal Dicatat, Ini Alasannya

Tim detikcom - detikOto
Rabu, 07 Sep 2022 11:23 WIB
SPBU Tanah Abang jual Pertalite dengan harga Rp 6.450 per liter. Sejumlah pemotor pun antre di SPBU itu demi dapat membeli Pertalite seharga Premium itu.
Mobil beli Pertalite, pelat nomornya bakal dicatat. (Foto: Rifkianto Nugroho/detikOto)
Jakarta -

Sejumlah SPBU Pertamina bakal dan mulai mencatat pelat nomor kendaraan para konsumen pengguna BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar. Buat apa, sih?

Pencatatan itu dilakukan bila kendaraan yang mengisi Pertalite maupun solar subsidi belum terdaftar ke link subsiditepat.mypertamina.id dan memiliki QR Code untuk bertransaksi. Pencatatan pelat nomor itu jelas Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga ditujukan untuk mendata kendaraan pengguna BBM subsidi.

"Agar terdata di sistem kendaraan yang mengisi BBM subsidi," jelas Irto dikonfirmasi detikcom, Selasa (6/9/2022).

Sementara itu, transaksi di SPBU masih berjalan secara normal. Pertamina juga belum melakukan pembatasan kendaraan seperti wacana yang selama ini mencuat. Irto kemudian mengingatkan agar para pengguna Pertalite ataupun solar subsidi untuk mendaftarkan kendaraannya.

"Dihimbau agar bisa segerea mendaftarkan kendaraannya," kata Irto.

Pendaftaran kendaraan pengguna Pertalite dan Biosolar memang sudah dibuka sejak 1 Juli 2022. Pendaftaran tersebut ditujukan agar penyaluran BBM subsidi lebih tepat sasaran. Pasalnya, BBM subsidi dinilai lebih banyak dinikmati orang kaya ketimbang masyarakat kurang mampu.

Untuk mencegah hal itu, pemerintah dikabarkan akan menyusun kriteria kendaraan yang berhak mengkonsumsi Pertalite maupun solar subsidi. Baru-baru dikabarkan, hanya mobil dengan kapasitas di bawah 1.400 cc dan motor di bawah 250 cc yang nantinya masih diperbolehkan mengisi Pertalite.

"60% masyarakat mampu atau yang masuk dalam golongan terkaya ini mengkonsumsi hampir 80% dari total konsumsi BBM bersubsidi. Sedangkan 40% masyarakat rentan dan miskin hanya mengkonsumsi 20% dari total subsidi energi tersebut. Jadi diperlukan suatu mekanisme baru, bagaimana subsidi energi ini benar-benar diterima dan dinikmati yang berhak," jelas Irto.

Di luar itu, pengendara akan diarahkan mengkonsumsi BBM nonsubsidi. Namun, keputusan itu belum final. Selama belum ketok palu, pengendara masih bebas mengisi BBM sesuai dengan preferensinya masing-masing.



Simak Video "Sudah Jalan 2 Bulan, Berapa Banyak Masyarakat yang Daftar MyPertamina?"
[Gambas:Video 20detik]
(dry/din)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT