ADVERTISEMENT

Krisis BBM di Sri Lanka Makin Parah, Sopir Taksi Sampai Antre 2 Hari

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Senin, 04 Jul 2022 20:46 WIB
Krisis ekonomi membuat warga Sri Lanka mengantre berhari-hari agar dapat membeli BBM. Selain itu warga diminta menunjukkan token saat akan membeli BBM di SPBU.
Foto: Krisis BBM di Sri Lanka (NurPhoto via Getty Images/NurPhoto)
Jakarta -

Sri Lanka masih dilanda krisis bahan bakar minyak (BBM). Bahkan, ada yang sampai rela menginap di SPBU untuk mendapatkan BBM yang dibutuhkan.

Dikutip BBC, ada salah seorang sopir taksi yang berada di posisi paling depan antrean SPBU tapi tak jelas kapan mendapatkan bensin yang dibutuhkan. Dia adalah Ajeewan Sadasivam yang tidak tahu berapa lama dia akan terjebak dalam antrian ini.

"Saya sudah mengantri selama dua hari," katanya di sebuah pompa bensin di ibu kota Kolombo.

Sadasivam menunjukkan pengukur bensin di mobilnya. Dia mengaku telah tidur di mobil sambil menunggu kejelasan mendapatkan BBM.

"Kadang-kadang saya pergi untuk pergi dan mengambil makanan, lalu saya kembali dan menunggu ... saya belum mandi berhari-hari," katanya.

Tak ada pilihan selain menunggu. Sebab, dia hanya membutuhkan bahan bakar untuk menjalankan taksi dan mencari nafkah demi menghidupi istri dan dua anaknya.

Dilaporkan, tidak ada pengiriman bahan bakar dari luar negeri selama setidaknya dua minggu. Pasokan bahan bakar dikirim ke Kolombo dari bagian lain pulau yang masih memiliki cadangan. Tetapi negara kepulauan itu kehabisan persediaan.

Sadasivam berharap sebuah kapal tanker akan segera tiba. Saat dia menatap halaman depan stasiun, anggota militer Sri Lanka berjalan mondar-mandir, menjaga SPBU yang kosong.

"Mereka mengatakan kepada saya bahwa mereka memperkirakan kendaraan (tangki BBM) untuk tiba malam ini," katanya.

"Saya harus menunggu, meskipun memakan waktu seminggu. Saya tidak bisa pergi ke antrean lain. Tidak praktis."

Antrean untuk mendapatkan bahan bakar membentang hampir 2 km. Ada empat antrean paralel, satu untuk mobil, satu untuk bus dan truk, serta dua lagi untuk sepeda motor dan tuk-tuk. Sebelum mendapatkan bahan bakar, mereka yang antre harus memiliki token. Rata-rata SPBU mengeluarkan 150 token sekaligus.

Di sisi lain, Jayantha Athukorala melakukan perjalanan dari sebuah desa di luar Kolombo, menghabiskan setidaknya 12 liter bensin hanya untuk mengambil kesempatan mendapatkan bensin yang lebih banyak. Dia bahkan berada di urutan 300-an dalam antrean itu.

"Saya tidak yakin saya akan mendapatkan token hari ini. Kami tidak bisa hidup tanpa gas atau bensin. Kami berada dalam masalah besar," ungkapnya.

Beberapa SPBU di Sri Lanka hanya memasok ke layanan penting seperti perawatan kesehatan, distribusi makanan dan transportasi umum.



Simak Video "Warga Sri Lanka Ramai-ramai Berburu Sepeda di Tengah Krisis BBM"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/din)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT