Bantu Peri Santoso, Difabel Penjual Lumpia yang Butuh Motor Roda Tiga

Tim detikcom - detikOto
Rabu, 25 Mei 2022 10:40 WIB
Peri Pedagang Lumpia
Peri Santoso berharap bisa punya motor modifikasi baru untuk membantunya mencari nafkah.Foto: Dok. detikcom
Jakarta -

Peri Santoso mengalami kecelakaan yang membuatnya harus kehilangan kedua kakinya. Kala itu, Peri terjatuh dari kereta api di Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Hal itu membuat kedua kaki Peri harus diamputasi.

Peri kemudian sempat mengurung diri di rumah selama dua tahun usai kecelakaan. Mendapat dukungan besar dari keluarga dan kerabat membuat Peri bersemangat untuk bangkit.

Kehilangan kaki tak membuat Peri Santoso menyerah dalam mendulang rezeki. Peri masih bersemangat untuk menjual lumpia duleg (sosis kecil) di atas sepeda motornya. Dengan bantuan dari teman dan keluarga, Peri kemudian memodifikasi motor agar bisa berjualan.

"Saat ini penjualan memang sulit setelah ada COVID. Bahkan saya sempat libur selama dua bulan tidak jualan," ungkap Peri saat ditemui detikcom berjualan di Jalan Pedan-Juwiring, simpang empat Lapangan Merdeka, Desa Sobayan, Kecamatan Pedan.

Peri mengatakan imbas pandemi COVID-19 sangat terasa bagi pedagang kecil seperti dirinya. Dia mengaku sempat setop berjualan selama Maret-April. Beruntung bagi Peri, istri di rumah memiliki pekerjaan sampingan sehingga ia dan keempat anaknya bisa melanjutkan hidupnya.

Peri pun kembali berjualan pada Mei meski omzet sepenuhnya belum pulih. Alhasil pendapatan Peri merosot drastis.

"Pendapatan turun drastis saat ini. Dulu sebelum ada COVID bisa habis 1.500 butir lumpia duleg tapi sekarang ini paling 700-800 butir saja tidak habis, kadang sampai malam tetapi kalau Rp 50.000 juga masih dapat," ujar Peri.

Walaupun penjualan masih sepi, Peri tidak berpangku tangan. Ia menggunakan motor matik yang telah dimodifikasi menggunakan roda tiga sehingga Peri bisa mengendarainya. Di atas motornya itu, Peri berkeliling mencari pembeli ke kampung-kampung.

Peri pun tak menjadikan kekurangan fisiknya menjadi alasan untuk berpangku tangan. Di masa pandemi COVID-19 ini, dia tetap semangat untuk mencari nafkah untuk keluarganya.

"Hidup ini harus berjalan, dijalani, bagi saya hidup harus semangat. Life must go on saja pokoknya dengan apa yang kita punya, usahamu adalah nasibmu itu prinsip," tegas Peri.

Kini Peri mengatakan motornya kerap kali mogok. Padahal motor ini jadi satu-satunya sarana untuk mencari nafkah dan dia tak ada biaya untuk membeli motor baru. Apalagi motornya bukan motor biasa karena perlu modifikasi agar lebih mudah baginya mengendarai.

Siti Dauli, sang istri, menuturkan kisah malang suaminya karena motornya yang begitu payah.

"Kendalanya motor, kadang macet apalagi di pertengahan sawah itu motor macet gak ada orang, sempat jatuh, pulang sampai subuh baru kembali, ke mana? Ternyata nunggu orang tolongin, sampai jam 4 tolong ke rumah," ucap Siti sedih.

Peri mengharapkan ada bantuan dari #sahabatbaik untuk membeli motor baru. Sehingga dia bisa terus semangat mencari nafkah untuk keluarganya.

Kamu bisa membantu Peri mendapatkan motor modifikasi baru dengan klik Donasi sekarang!

Cara sederhananya dengan memberikan donasi melalui berbuatbaik.id CTARSA Foundation. Caranya yaitu dengan klik LINK BERIKUT INI.

Kabar baiknya, semua donasi yang diberikan seluruhnya akan sampai ke penerima 100% tanpa ada potongan.



Simak Video "Pahitnya Hidup Bocah Penjual Gulali, Dipalak Preman Hingga Bantu Ekonomi Keluarga"
[Gambas:Video 20detik]
(dry/rgr)