Viral Alat Pengubah Air Jadi BBM, Ahli Energi ITB: Bukan Teknologi Baru

Luthfi Anshori - detikOto
Kamis, 12 Mei 2022 17:06 WIB
Nikuba, alat pengonversi air menjadi bahan bakar
Foto: Ony Syahroni/detikJabar. Nikuba, alat pengonversi air menjadi bahan bakar.
Jakarta -

Jagat media sedang dihebohkan berita mengenai alat yang bisa mengubah fungsi air menjadi BBM (Bahan Bakar Minyak) pada kendaraan bermotor. Meski baru viral sekarang, teknologi ini sejatinya bukanlah teknologi baru.

Nama Aryanto Misel viral di media sosial dengan alat buatannya, Nikuba, yang diklaim bisa menggantikan fungsi BBM dengan air tanah. Menurut Aryanto, Nikuba bisa mengubah air (H2O) menjadi bahan bakar untuk kendaraan bermotor, khususnya roda dua, dalam bentuk hidrogen (H2).

"Kalau kita bicara Nikuba, ini bukan sebagai penghemat BBM lagi, tapi full ini 100 persen dari air," kata Aryanto Misel seperti dikutip dari detikJabar, Kamis (12/5/2022).

Tapi menurut Ahli Konversi Energi dari Fakultas Teknik dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung (ITB), Tri Yuswidjajanto Zaenuri, teknologi pengubah air menjadi hidrogen untuk bahan bakar kendaraan bermotor sejatinya merupakan teknologi lama.

"Itu (teknologi) sudah lama banget. Coba lihat saja di (situs jual beli) Tokopedia, tulis 'Joko Energy', keluar semua alatnya itu. Jadi yang ngembangin udah banyak. Termasuk (tutorialnya) di Youtube, juga udah banyak banget," kata pria yang akrab disapa Yus kepada detikOto, Kamis (12/5/2022).

Menurut Yus, teknologi ini sudah dikembangkan sejak tahun 1960-an, karena sudah banyak orang yang mengenal konsep elektrolisa air. Bagi yang belum tahu, elektrolisa air merupakan penguraian senyawa air (H2O) menjadi oksigen (O2) dan hidrogen gas (H2) dengan menggunakan arus listrik yang melalui air tersebut.

"Dan sebetulnya kalau dibilang (teknologi ini) menggantikan bensin, ya nggak juga. Karena nggak bisa, nggak akan cukup. Sebab energi yang diperlukan untuk elektrolisa air sehingga menjadi H2 dan O2 itu lebih besar dari pada energi yang diperoleh jika H2 itu dibakar dalam mesin. Sehingga akinya bakal tekor. Mungkin bisa saja sih (alat itu digunakan), tapi kalau pakai yang seperti itu ya nggak akan cukup, mungkin hanya bisa untuk idle (langsam) saja ya dan itu cuma sebentar," sambung Yus.

Menurut Yus, untuk bisa menggunakan air sebagai bahan bakar pengganti tidak hanya dibutuhkan aki, tapi juga tetap membutuhkan bensin. Jika memakai air saja untuk proses ini, maka itu tidak akan cukup.

"Lama-lama aki bisa tekor karena secara keseimbangan energi tidak cukup. Lebih besar untuk memproduksi dari pada yang berguna. Jadi tak hanya butuh aki, tapi juga tetap butuh bensin," bilang Yus.

(lua/lth)