Awas! Aktivitas Transportasi Tak Sehat Bisa Sebarkan Varian Omicron

M Luthfi Andika - detikOto
Minggu, 19 Des 2021 07:04 WIB
Usai diguyur hujan, kemacetan parah mengular panjang di sejumlah ruas jalan di ibukota Jakarta. Salah satunya Tol Dalam Kota, maupun di jalan arteri MT Haryono, Jakarta.
Ilustrasi kemacetan usai liburan Foto: Rengga Sencaya
Jakarta -

Bagi detikers yang hendak berlibur Nataru (Natal dan Tahun Baru) harus lebih waspada ya. Jangan sampai, di saat pulang dari liburan Nataru membawa penyakit dan virus ke dalam lingkungan keluarga.

Pengamat transportasi Djoko Setijowarno mengingatkan, aktivitas transportasi yang tidak sehat akan mendorong percepatan terjadi perluasan suatu wabah penyakit.

Djoko menjelaskan hal tersebut merupakan hasil survei Pusat Penelitian dan Pengembangan Transportasi Jalan dan Perkeretaapian Balitbang Perhubungan yang menyatakan 11 juta orang (7,1 persen) akan melakukan perjalanan antar kota di akhir tahun 2021.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Transportasi Jalan dan Perkeretaapian Balitbang Perhubungan melakukan survei mobilitas saat Natal 2021 dan Tahun Baru 2022 secara daring (online) pada 1-15 Desember 2021.

Pengambilan sampel dilakukan secara acak dengan penyebaran kuesioner melalui Media Sosial (Whatsapp dan Instagram) dan SMS Blast. Responden sebanyak 49.074 orang dengan margin error 0,5 persen. Penentuan sampel dilakukan dengan rumus Slovin. Wilayah studi Nasional (Jawa Bali), dan Jabodetabek

Wilayah Jawa dan Bali memiliki populasi penduduk 156 juta orang (BPS, 2020). Dilihat dari profil yang terbanyak melakukan perjalanan adalah laki-laki (77 persen), usia 20-30 tahun (45 persen), pendidikan SMA/sederajat (48 persen), pekerjaan karyawan swasta (27 persen), dan penghasilan di bawah Rp 3 juta (70 persen).

Sementara profil responden terkait dengan COVID-19 yang banyak menjawab tidak pernah terpapar (84,8 persen). Berikutnya, sudah 2 kali divaksin (77,2 persen), menggunakan Peduli Lindungi (81 persen), waspada terhadap Covid-19 (63,8 persen), dan sangat taat terhadap protokol kesehatan (57,2 persen).

Pada saat pemerintah melakukan pembatalan PPKM Level 3 diperkirakan potensi pergerakan masyarakat di Jawa dan Bali sekitar 11 juta orang (7,1 persen) yang akan melakukan perjalanan. Sementara potensi pergerakan masyarakat di wilayah Jabodetabek sebanyak 2,3 juta orang (7 persen). Berikut data pergerakan masyarakat Jawa dan Bali:

1. Masyarakat Jabodetabek: 21.8 persen atau 2,3 juta orang.

2. Masyarakat Jawa Tengah 20,2 persen atau 2,2 juta orang.

3. Masyarakat Jawa Timur 19,7 persen atau 2,1 juta orang.

4. Masyarakat Jawa Barat Non Jabodetabek 19,3 persen atau 2,1 juta orang.

5. Masyarakat Bali 7,4 persen atau 794 ribu orang.

6. Masyarakat Banten Non Jabodetabek 6 persen atau 643 ribu orang.

7. Masyarakat DI Yogyakarta 5,6 persen atau 605 orang.

Selanjutnya dalam survei tersebut juga dijelaskan daerah mana saja yang menjadi lokasi tujuan masyarakat Jawa dan Bali beraktivitas menggunakan transportasi.

"Sementara itu, sebagai daerah tujuan terbanyak untuk perjalanan orang dari Jawa dan Bali adalah Pertama menuju Jabodetabek 22,9 persen atau sekitar 2,5 juta orang, kedua menuju Jawa Tengah 19,5 persen atau sekitar 2,1 juta orang, ketiga menuju Jawa Barat 18,5 persen atau sekitar 2 juta orang. Keempat, menuju Jawa timur sebanyak 16,6 persen atau sekitar 1,8 juta orang, kelima menuju DI Yogyakarta 5,8 persen atau 624 ribu orang," tutup Djoko.

Tonton video 20Detik terkait varian Omicron di Indonesia:

[Gambas:Video 20detik]





Simak Video "Libur Nataru, Pejabat Pemkab Sukabumi Wajib Aktifkan Ponsel 24 Jam!"
[Gambas:Video 20detik]
(lth/rgr)