Produksi Mobil Bakal Gunakan Sumber Daya Baru, Tidak Lagi Butuhkan Chip Semikonduktor

Ilham Satria Fikriansyah - detikOto
Sabtu, 24 Jul 2021 10:56 WIB
Pabrik milik PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Karawang resmi melahirkan mobil Sienta. Toyota menargetkan produksi 4.000 unit/bulan.
Ilustrasi produksi mobil Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Krisis chip semikonduktor masih melanda sejumlah produsen otomotif di dunia. Hal ini menyebabkan produksi mobil terganggu hingga ada yang dipangkas. Namun, dalam waktu dekat masalah tersebut bisa teratasi berkat hadirnya sumber daya baru.

Dikutip dari Carscoops, Kepala Ekonomi ING China, Iris Pang mengatakan dalam waktu dekat produsen mobil akan memiliki sumber daya baru yang akan digunakan pada komponen chip semikonduktor. Cara ini dilakukan guna membantu mengurangi krisis chip dalam beberapa waktu ke depan.

Pang juga menyebut bahwa perusahaan chip yang sebagian besar berbasis di Taiwan, sudah meningkatkan produksi di seluruh pabrik dalam waktu dekat. Sehingga, chip tersebut dapat dikirim ke produsen otomotif dan dipasangkan pada seluruh kendaraan.

"Perusahaan semikonduktor di Taiwan sedang menyesuaikan produksi chip untuk mobil, sehingga kekurangan chip harus cepat diselesaikan dalam beberapa minggu ke depan. Tetapi, masalah chip ini tetap akan berdampak pada yang lainnya," kata Pang dalam sesi Global Markets Forum pekan ini.

CEO salah satu perusahaan chip semikonduktor itu mengatakan bahwa kelangkaan komponen ini bisa berlangsung lebih lama hingga pertengahan tahun 2022. Sejumlah pemasok chip juga mencari cara untuk bisa mengirim perangkat elektronik tersebut ke pabrikan mobil, salah satunya dengan mendaur ulang chip bekas.

Kelangkaan chip semikonduktor ini terjadi sejak awal 2020 lalu karena pandemi COVID-19. Hal ini menyebabkan berbagai sektor usaha merugi, termasuk industri otomotif. Sejumlah produsen otomotif memprediksi jika kelangkaan chip ini bisa terjadi hingga beberapa tahun mendatang.

CEO Stellantis, Carlos Tavares memprediksi jika krisis ini bisa berlangsung sampai 2022 mendatang karena belum ada sinyal jika perusahaan chip mulai menambah jumlah produksinya.

"Dari yang saya lihat selama ini, krisis semikonduktor bisa terjadi hingga 2022 mendatang. Karena saya tidak melihat ada tanda-tanda penambahan produksi chip dari sejumlah pabrikan yang berada di Asia untuk dikirim ke produsen otomotif," ungkapnya.

Sementara itu, beberapa produsen mobil telah menunjukkan tanda-tanda optimisme, seperti Ford yang memiliki pesanan chip semikonduktor untuk memasok pikap F-Series. Namun merek-merek seperti BMW dan Mercedes-Benz memperkirakan bahwa krisis chip akan terus berlanjut hingga sisa tahun 2021, bahkan mungkin hingga tahun depan.



Simak Video "Geber Gas Mobil Sebelum Matikan Mesin Mobil, Biar Kenapa Sih?"
[Gambas:Video 20detik]
(lth/din)