Minggu, 28 Jun 2020 08:30 WIB

Cerita Montir Buka Usaha Bengkel Sendiri, Keuntungan Sehari Bisa Rp 325 Ribu

Rizki Pratama - detikOto
Bisnis bengkel umum Bisnis bengkel umum. Foto: Rizki Pratama
Jakarta -

Tidak sedikit orang yang memimpikan untuk memiliki bisnis sendiri meskipun kecil apalagi di masa-masa new normal pandemi virus Corona ini. Kata-kata motivasi yang terlontar dari pengusaha sukses Bob Sadino pun sering menjadi penyemangat untuk membuka usaha sendiri.

"Setinggi apapun pangkat yang dimiliki, anda tetap seorang pegawai. Sekecil apapun usaha yang anda punya, anda adalah bosnya," demikian bunyi perkataan pria yang sukses mengelola bisnis pangan dan peternakan itu.

Seorang montir dan pemilik bengkel umum, Iwan Setiyono pun merupakan satu dari sekian banyak orang yang mengamalkan petuah Bob Sadino di atas. Iwan merupakan mantan montir bengkel resmi sepeda motor di salah satu merek selama 9 tahun, sebelum akhirnya memutuskan keluar dan membuka bengkel umum motor miliknya sendiri.

Bengkel Iwan hingga saat ini sudah berdiri sejak tahun 2014 dan hanya terletak di sebuah gang perumahan di kawasan Mampang, Jakarta Selatan. Membuka bengkel sendiri dan melayani perawatan motor dengan tangannya sendiri ternyata lebih memuaskan baginya bahkan sampai ke penghasilan sekalipun.

"Keuntungan jauh lumayan dibanding saya masih kerja. Jauh lumayan, lebih besar usaha sendiri," ujar Iwan kala ditemui detikcom di bengkelnya, Jumat (26/6/2020).

Meski tak menyebutkan berapa penghasilannya, bisa dibandingkan upahnya saat terakhir bekerja di bengkel resmi pada tahun 2011. Terakhir sebelum ia keluar dari bengkel resmi upahnya sebesar Rp 37.500/hari.

Di bengkel resmi ia mengerjakan rata-rata 10 motor setiap harinya. Sedangkan di bengkelnya sendiri ia cukup mengerjakan 5 motor dalam sehari dengan biaya jasa di bengkelnya saja Rp 65.000. Berarti dalam sehari Iwan dapat meraup Rp 325.000 dari jasanya saja, belum lagi keuntungan menjual onderdil.

"(Waktu kerja di bengkel resmi-Red) itu gajinya harian. Jadi kalau masuk dibayar. Jadi tiap bulan sekali dihitung absen. Masuk pertama tahun 2002 sehari Rp 20.000 saya keluar tahun 2011 gaji saya sehari Rp 37.500," ungkap Iwan.

Untuk omzet pun dia tidak terlalu ambil pusing. Kebutuhan pokok rumah tangga yang diisi seorang istri dan dua anaknya terpenuhi. Sementara itu sisanya selalu ia gunakan untuk kebutuhan tersier atau sekunder.

"Modalnya tak putar sih, yang jelas saya model manajemennya gini. Contoh, ada duit mati Rp 10 ribu, buat rumah istri dan makan Rp 10 ribu trus kebutuhan lain sekolah anak, listrik, air terus kewajiban yang tidak bisa ditunda itu yang penting ke tutup. Sisanya dibelanjain gitu doang. Pokoknya kewajiban tertutup lalu sisanya dibelanjain. Terus ada duit mati yang disimpan terus. Itu nggak dibuka-buka, biasanya dipakai untuk bayar kontrakan (sewa rumah dan lahan bengkel). Kalau kurang ditambahin kalau lebih alhamdulillah," tukas Iwan.



Simak Video "Kembali Bekerja dan Tetap Sehat di Era New Normal"
[Gambas:Video 20detik]
(rip/riar)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com