Selasa, 21 Apr 2020 20:01 WIB

Mudik Dilarang Pemerintah, Industri Otomotif Makin Tertekan?

Ridwan Arifin - detikOto
Ratusan mobil merk Toyota yang siap di ekspor berada di Indonesia Kendaraan Terminal, Tanjung Priok,  Jakarta Utara, Rabu (5/9). Toyota Indonesia mencatat telah mengekspor total 1,38 juta unit kendaraan completely built up (CBU)‎ sejak mulai pengapalan Kijang generasi ketiga pada Agustus 1987 hingga Juli 2018. Dilarang mudik, industri otomotif makin tertekan? Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Presiden Joko Widodo memutuskan untuk melarang mudik tahun 2020, hal ini dilakukan guna memutus mata rantai penyebaran virus Corona. Keputusan ini tentu juga berdampak pada sektor otomotif.

Namun Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie D Sugiarto berharap masyarakat mengikuti imbauan pemerintah tersebut. Di sisi lain memang penjualan otomotif saat ini, kata Jongkie, sedang tidak bagus-bagusnya.

"Kita harus support Pemerintah, karena jika wabah ini tidak selesai-selesai, maka industri otomotif akan makin lama terpuruknya," kata Jongkie saat dihubungi detikOto, Selasa (21/4/2020).

Penjualan otomotif di Tanah Air memang dihantam virus Corona. Bahkan, Gaikindo memprediksi penjualan mobil tahun ini turun hingga 40 persen.

Berbeda dari target tahunan sebelumnya yang bisa mencapai hingga 1,1 juta unit. Tahun ini penjualan otomotif Tanah Air diproyeksikan tinggal 600 ribu unit. Target penjualan tahun itu pun bahkan lebih rendah daripada pencapaian penjualan kendaraan pada 2010 yang mencapai 731.292 unit.

Lesunya penjualan terbukti di kuartal pertama di awal tahun ini penjualan drop hingga 18,35 persen. Sebagai pembanding, penjualan mobil wholesales (distribusi dari pabrik ke dealer) pada Januari-Maret 2019 mencapai 255.191. Sedangkan tahun 2020, berada di angka 236.825 unit.


Ditambah dengan adanya larangan mudik dirasa membuat sektor otomotif semakin tertekan. Betapa tidak, bila melihat trennya, berdasarkan data retail sales (diler ke konsumen) Gaikindo tahun 2018 dan 2019. Momen ini selalu menyumbang angka kenaikan dari bulan sebelumnya.

Pada tahun 2018 misalnya, secara total mampu mencatatkan angka 1.152.641 unit. Tidak ada wabah, masyarakat pun masih bisa mudik. Pada masa sebelum lebaran tiba mampu membukukan angka 104.153 unit atau naik sekitar 4,7 persen dari bulan sebelumnya. Bulan berikutnya terjadi penurunan, Juni sebanyak 71.778 unit, dan kembali naik di Juli sebesar 98.182 unit.

Momen sebelum lebaran selalu mengalami kenaikan. Pola yang sama juga juga terlihat pada 2019, secara total angka retail sales mampu tembus di atas satu juta unit, yakni sebesar 1.043.000 unit.

Di tahun 2019 pada bulan Mei mampu membukukan angka 93.881 unit, naik 7,75 persen dari bulan sebelumnya. Saat memasuki bulan lebaran di Juni 65.750 unit, dan Juli kembali naik 87.611 unit.

Melihat tren penjualan jelang lebaran selalu naik, penjualan mobil baru di Ramadan tahun ini diproyeksi tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya. Beberapa pabrik mobil di Indonesia juga ditutup sementara. Aktivitas produksi dihentikan beberapa waktu karena mengikuti anjuran pemerintah terkait Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hingga kekurangan pasokan komponen kendaraan.



Simak Video "Cerita Film Pendek Jangan Mudik dari Polda Sulsel"
[Gambas:Video 20detik]
(riar/din)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com