Selasa, 21 Apr 2020 07:11 WIB

Kurangi Polusi, Industri Otomotif Dinilai Perlu Tinggalkan Teknologi Usang

Ridwan Arifin - detikOto
PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK) akhirnya resmikan pabriknya di daerah Boyolali, Jateng. Pabrik itu nantinya akan memproduksi mobil-mobil Esemka. Ilustrasi pabrik mobil Foto: Ragil Ajiyanto
Jakarta -

Polusi udara jadi isu di tengah pandemi Corona. Tak dimungkiri, terbitnya kebijakan social distancing hingga karantina mandiri untuk mencegah penyebaran virus Corona membuat tingkat polusi udara juga menurun.

Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB), Ahmad Safrudin melihat momen ini bisa dimanfaatkan pabrikan otomotif untuk inovasi memproduksi kendaraan yang rendah emisi.

"Jangan sampai kita terus status quo, jadi katakan auto industri hanya tiarap. Setelah virus COVID-19 melanjutkan status quo dengan teknologi yang usang," kata pria yang akrab disapa Puput, saat dihubungi detikcom, Senin (20/4/2020).

"Teknologi kendaraan yang usang saat ini kan ada Euro 2 untuk diesel, untuk Euro 4 bensinnya, apalagi sepeda motornya masih standar Euro 3," sambung Puput.

Emisi gas buang menjadi tanggung jawab berbagai negara. Kendaraan bermotor turut menyumbang emisi gas buang. Berbagai negara di dunia pun harus berbenah untuk menekan polusi udara.

"Seluruh dunia lagi mencari pola skema dari kendaraan irit BBM, kendaraan irit energi, rendah karbon," kata Puput.

Lebih lanjut, Puput mengatakan kendaraan dengan emisi nol diharapkan bisa diproduksi dalam negeri.

"Jangka panjang re-desain, jadi di-set up ulanglah apakah kita akan lanjut seperti ini. Ini kan sebenarnya bagi auto industry di Indonesia juga momentum untuk merebut market.
Kan selama ini market industri otomotif kita kan hanya jago kandang gitu,"

Dia menantang untuk secara dramatis meningkatkan cara mengembangkan produk dan menciptakan terobosan, khususnya industri nasional dalam membuat kendaraan listrik.

"Rebut saja low carbon emission vehicles, kendaraan yang bahan bakar irit, teknologi itu rebut. Kalau kita berhasil merebut kendaraan yang irit BBM atau yang rendah karbon, pasar akan mengikuti."

"Memang yang sekarang lagi maju China dengan kendaraan listriknya, nah tetapi okelah yang leader China tapi tidak ada salahnya kita merebut itu, karena market kita terbesar di Asia Tenggara. Jadi setidak-tidaknya kita bebas dari impor, kalau diproduksi dalam negeri," pungkas dia.



Simak Video "Awas! Mobil Ber-AC Belum Tentu Aman dari Polusi"
[Gambas:Video 20detik]
(riar/din)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com