Kamis, 20 Feb 2020 08:46 WIB

Ada Parkir Meter, Tukang Parkir Bukan Hilang Justru Digaji per Bulan

Rizki Pratama - detikOto
Parkir Meter Meski pembayaran parkir lebih mudah, profesi jukir masih dibutuhkan. Foto: Rizki Pratama/detikOto
Jakarta -

Kemajuan teknologi biasanya mempermudah pekerjaan manusia. Di sisi lain segala otomasi tersebut juga akan menghilangkan lapangan pekerjaan. Seperti halnya alat parkir meter otomatis yang mungkin secara fungsi akan meniadakan juru parkir yang memungut biaya parkir.

Mesin parkir meter sebetulnya sudah dipasang di beberapa jalan Jakarta. Namun, pada penerapannya ternyata di tempat tersebut masih ada juru parkir (jukir) yang memang secara sah dipekerjakan oleh Dinas Perhubungan.

Salah seorang jukir yang bertugas, Yusuf sendiri tak pernah merasa takut bahwa profesinya itu akan digantikan oleh mesin. Pria ini pun sudah lama menjadi jukir bahkan sebelum mesin parkir otomatis dipasang.

"Nggak mungkin (tergantikan) tetap butuh (jukir) kalau di jalan raya. Soalnya meskipun ada alat otomatis kayak aplikasi pembayarannya, butuhnya keluar masuknya. Kalau masalah bayar beda lagi ceritanya. Soalnya di sini rawan macet," kata Yusuf kepada detikcom saat ditemui di Jl. H. Agus Salim, Jakarta Pusat, Selasa (18/2/2020).

Justru para juru parkir ini merasa bersyukur karena mereka memiliki penghasilan tetap. Kebanyakan jukir yang berjaga di unit parkir meter ini sebelumnya memang orang yang berprofesi serupa. Mereka pun digaji per bulan dengan sistem kontrak per tahun. Profesi ini terbuka untuk siapa pun yang ingin mendapatkan penghasilan sebagai jukir.

"Kebanyakan yang (kerja di sini) udah tukang parkir juga dulunya. Kalau saya dulu dari manual udah di sini terus ditarik sejak ada mesin ini, bikin surat lamaran. Sistem kontrak per tahun. Orang mau lamar lagi bisa, lamarnya ke kantor pusat," terang Yusuf.

Ia pun lebih menyenangi bekerja seperti saat ini daripada cara konvensional. Yusuf juga berharap ada tempat lain juga yang mengaplikasikan parkir meter seperti ini.

"Mending kayak gini, lebih teratur. Bagusnya semua kayak gini juga, tapi mungkin nggak bisa karena takut rugi mungkin," tutupnya.



Simak Video "DKI Bangun Trotoar dan Area Publik, TGUPP: Di Sana Terjadi Toleransi"
[Gambas:Video 20detik]
(rip/din)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com