Selasa, 14 Jan 2020 19:55 WIB

Risiko yang Mengintai Truk Kelebihan Muatan

Ridwan Arifin - detikOto
Foto: Rifkianto Nugroho

Deddy juga menyebutkan data lain dari KNKT menyebutkan bahwa 80 % kecelakaan di tol akibat mobil kekurangan tekanan ban. "Padahal truk ODOL sangat mengganggu kinerja ban itu sendiri," ujar Deddy.

Menurutnya karena beban yang berlebih, risiko kerusakan pada armada dan infrastruktur jalan tak bisa terhindarkan.


Bicara risiko truk ODOL, Deddy mengatakan lebih fatal. Sebab masalah-masalah seperti truk rem blong, ban truk pecah, as roda truk patah, suspensi truk patah, truk terguling, dan jalan cepat rusak jadi hal yang lekat dengan truk muatan berlebih ini.

Kemudian masalah lain yang ditimbulkan bila muatan atas truk menabrak jembatan lain, jembatan penyeberangan orang (JPO) atau viaduct, dan kecepatan truk terbatas alias tidak layak beroperasi di jalan tol.

"Kalau pengusaha ingin berhemat inginnya 36 ton ingin diangkut langsung dalam 1 truk selain murah tentunya cepat. Tapi tidak artinya bila cepat dan murah itu pada akhirnya malah membuat celaka di jalan malah mengganggu produksi / kinerja jalan / jalan tol itu sendiri," jelasnya.


Namun Kementerian Perindustrian meminta agar implementasi tersebut ditunda karena dinilai dapat menurunkan daya saing. Deddy menyoroti keselamatan di jalan lebih utama.

"Membersihkan dari truk-truk ODOL harus kerja keras semua lini stakeholder bila ingin zero accident. Kinerja jembatan timbang harus diupgrade setiap waktu, data-data setiap truk-truk ditimbang idealnya terkoneksi dengan server Kemenhub dan Dishub setempat, sehingga bisa menekan resiko truk-truk ODOL berjalan," tutup Deddy.


Risiko yang Mengintai Truk Kelebihan Muatan
Halaman
1 2 Tampilkan Semua

(riar/lth)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com