ADVERTISEMENT
Kamis, 05 Sep 2019 16:13 WIB

Indonesia Terima USD 4 Miliar untuk Kelola Limbah Baterai Lithium

Rizki Pratama - detikOto
Foto: Dadan Kuswaraharja Foto: Dadan Kuswaraharja
Jakarta - Persiapan soal kendaraan listrik tidak hanya masalah membuat dan menjualnya. Meski kendaraan listrik tak lagi menghasilkan emisi, sisa penggunaan baterai listrik merupakan salah satu limbah B3.

Untuk mengelola limbah tersebut, Menko Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan bahwa sudah ada investor yang masuk untuk mengelola limbah dari baterai lithium.

"Kita di Morowali investasinya datang juga sudah tanda tangan USD 4 miliar, itu nanti untuk recycle lithium baterainya," kata Luhut di Indonesia Electric Motor Show (IEMS), Balai Kartini, Jakarta Selatan.



Masuknya investasi itu juga merupakan buah dari pemberhentian ekspor nikel yang berasal dari Morowali, Sulawesi Tengah. Dengan demikian tak ada pilihan lain bagi para pemegang modal untuk menanam investasi baterai lithium di Indonesia.

"Begitu kemarin nikel ore dilarang, mereka tidak bisa bikin lagi di tempat lain, bikinnya harus di Indonesia," tambah Luhut.

Luhut juga mengatakan Indonesia pun juga siap memberikan kemudahan pada para investor melalui Peraturan Presiden.

"Semua kita bikin mudah perintah presiden dibuat mudah kita mengacu benchmark negara lain. Apalagi sekarang ada terobosan perpajakan lebih transparan," timpal Luhut.

Selama ini lebih dari 98 persen hasil alam itu diekspor ke China. Kini dengan seriusnya Indonesia menggarap kendaraan listrik, diharapkan investasi besar akan tumbuh pesat di dalam negeri. "Kobalt adalah material utama lithium baterai, sekarang 80 persen ada di Indonesia. Dengan stok ini orang sudah pindah investasinya ke Indonesia," jelas Luhut.

Simak Video "Luhut ke PLN Soal SPLU: Jangan Jadi BUMN Sentris!"
[Gambas:Video 20detik]
(rip/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com