Berita Populer: Lalu Lintas Negara Tetangga, Mobil Mewah Nganggur

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Selasa, 25 Jun 2019 07:55 WIB
Berita Populer: Lalu Lintas Negara Tetangga, Mobil Mewah Nganggur
Ilustrasi Ertiga berlogo Toyota. Foto: Ilustrasi Fuad Hasim

Secara global, Toyota dan Suzuki telah menjalin kerja sama. Kesepakatan antara Suzuki Motor Corporation dan Toyota Motors Corporation (TMC) mengungkapkan bahwa kedua pabrikan itu akan mengembangkan mobil baru untuk beberapa pasar di dunia, juga akan berbagi mobil satu sama lain.

Dengan kolaborasi itu, Suzuki akan menjual Corolla dengan logo 'S', sementara Toyota akan menjual Ertiga, Vitara Brezza, Ciaz, dan Baleno di India dengan beberapa pembaruan. Baru-baru ini, Baleno versi Toyota sudah meluncur di India dalam bentuk Toyota Glanza. Ke depan, Toyota juga akan me-rebadge Ertiga untuk negara itu.

Strategi Toyota yang menjual mobil Suzuki itu tidak diterapkan di Indonesia. Executive General Manager Marketing Planning PT Toyota Astra Motor (TAM), Fransiscus Soerjopranoto, menegaskan hal tersebut.

"Kan decision dari TMC sudah jelas, kalau di India dia akan kolaborasi sama Suzuki, kalau Indonesia kolaborasi sama Daihatsu," ujar pria yang akrab disapa Suryo saat berbincang santai dengan detikcom akhir pekan kemarin.

Seperti diketahui, saat ini Daihatsu sudah menjadi anak perusahaan Toyota. Per 1 Agustus 2016, Daihatsu sepenuhnya menjadi milik Toyota. Di Indonesia, Daihatsu juga memproduksi mobil Toyota seperti Avanza, Agya, Calya, dan Rush.

"Jadi kalau ditanya apakah nanti ada kolaborasi sama Suzuki di Indonesia, jawabannya nggak, karena di Indonesia sudah ada (kolaborasi bersama) Daihatsu," sebut Suryo.

Artinya, Glanza atau Baleno versi Toyota dan Ertiga berlogo Toyota yang direncanakan untuk India takkan dijual di Indonesia. Apalagi, di Indonesia Toyota sudah punya Yaris yang bersaing dengan Baleno, juga sudah ada Avanza pesaing Ertiga yang di India akan dijual oleh Toyota. Seperti diketahui, Avanza sudah menjadi market leader, meski sempat disalip Xpander.

"Dari TMC sudah memikirkan hal itu," ujarnya.

Suryo mengomentari soal kolaborasi Toyota dengan beberapa pabrikan lain. Menurutnya, kolaborasi dengan pabrikan lain itu diperlukan mengingat biaya membuat mobil itu cukup mahal.

"Cost R&D (research & development) yang paling mahal. (Kolaborasi) itu nggak bisa dihindari, karena cost itu kan mahal sekali sekarang. Kayak Toyota Supra kan join sama BMW. Sekarang kalau dilihat pemainnya udah kayak konglomerasi, gede-gede. Ada Renault-Nissan-Mitsubishi, kemudian ada Toyota dengan grupnya, dan sebagainya," ucap Suryo.

(rgr/ddn)