Jumat, 21 Jun 2019 15:32 WIB

Awas, Perang Diskon Ojol Bahayakan Konsumen dan Operator

Rizki Pratama - detikOto
Foto: Tim Infografis, Fuad Hasim Foto: Tim Infografis, Fuad Hasim
Jakarta - Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) mendesak pemerintah untuk mengatur regulasi terkait tarif dan promosi taksi online. Menurut MTI perang diskon ini dapat memberikan dampak negatif pada konsumen ke depannya.

Masalah ini ditemukan oleh ekonom Universitas Indonesia (UI), Harryadin Mahardika saat menjadi pemateri dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan MTI, Jumat, (21/6/2019), Gambir, Jakarta Pusat.

"Predatory promotion di Industri transportasi online ini bisa jadi sangat berbahaya karena ditujukan mematikan pesaing dan mengarah ke persaingan tidak sehat," kata Harryadin.



Perang diskon ini cenderung dilakukan untuk menguasai pasar sehingga persaingan ini tidak akan berhenti sebelum salah satu gulung tikar atau diakuisisi 'pemenang'.

"Terdapat perbedaan dengan perusahaan konvensional yang melakukan promosi dengan menyisihkan profit untuk menjaga loyalitas konsumen. Sedangkan promosi oleh transportasi online cenderung membakar modal untuk penguasaan pangsa pasar," papar Harryadin.

Harryadin memberikan contoh kasus di Singapura yang terjadi antara Grab dan Uber. Setelah salah satunya, yaitu Grab sudah tak sanggup membakar modal mereka pun menyerah dan diakuisisi oleh Grab. Ketika salah satu perusahaan menjadi pemain tunggal mereka pun bisa lebih leluasa menentukan harga.

"Saya memberi contoh di Singapura Pasca akuisisi Uber oleh Grab, tarif dinaikkan hingga 10-15% dari Maret-Juki 2018 dan diprediksi meningkat drastis 20-30% hingga 2021. Di saat bersamaan, besaran insentif bagi mitra pengemudi juga ditemukan menurun secara signifikan pasca akuisisi," pungkas Harryadin. (rip/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed