Rabu, 20 Feb 2019 09:59 WIB

Bus Kota Seperti Mati Suri, yang Tua Berakhir Jadi Rongsok Besi

Ridwan Arifin - detikOto
Ilustrasi Bus Mayasari Bakti. Foto: Ari Saputra
Jakarta - Sempat menjadi primadona dan berjaya di awal kemunculannya di tahun 1960-an, Perusahaan Otobus Mayasari Bakti kini mulai menjalin kerja sama dengan PT TransJakarta.

Asisten Direktur Operasi PT Mayasari Bakti Ahmad Zulkifli mengungkapkan saat ini jumlah armada bus kota reguler Mayasari Bakti secara bertahap akan dikurangi dan lebih mengarah kepada penambahan bus TransJakarta.

"Pemerintah mengharuskan kita berada di bawah naungan manajemen Transportasi Jakarta. Artinya ada penataan yang dilakukan pemerintah dalam hal ini untuk melakukan revitalisasi angkutan," ujar Akhmad Zulkifli kepada detikOto di kantor Mayasari Bakti, Cijantung, Jakarta Timur, Selasa (19/02/2019).

Bukan tanpa sebab, Akhmad mengatakan manajemen Standar Pelayanan Minimal (SPM) Transjakarta saat ini dinilai lebih baik sehingga bisa melayani penumpang dengan maksimal.



"Sehingga ada penyeragaman dari sisi manajemen, kemudian ada Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang ditetapkan oleh Gubernur, nah ini kan perlu satu atap, mau tidak mau Mayasari harus ikut," kata Akhmad.

Ia mengatakan saat ini untuk biaya perawatan dengan tarif bus reguler sangat tipis harapan. Meminjam istilahnya seperti mati suri, masyarakat sudah pintar memilih transportasi yang murah namun dengan fasilitas lumayan memadai.

"Yang regular kita sudah mati suri, artinya dengan masuknya busway ke penyanggah kota dengan disubsidi, kemudian pelayanan mereka lebih bagus, harga yang murah," kata Akhmad.

Meski sedang mati suri, saat ini PO Mayasari Bakti masih melayani sejumlah trayek untuk masyarakat. Namun, kata Akhmad, dalam waktu dua hingga tiga tahun ke depan, semuanya mengarah ke Transjakarta.



Peremajaan bus regular rasanya tidak bakal dilakukan, bahkan bus-bus tua yang tidak layak jalan akan berakhir menjadi besi tua.

"Pola yang kita lakukan kemarin-kemarin adalah kita tawarkan kepada pihak yang mau membeli apa adanya. Sementara yang sudah tidak operasi dibesituakan, istilahnya di-scrap atau potong kiloan misal dibeli borongan Rp 15 juta-Rp 20 juta," kata Akhmad.

Akhmad mengatakan dari 1.500 bus reguler yang sempat dimiliki Mayasari Bakti, kini hanya tersisa 500 unit bus. "70 persen dari 500 masih beroperasi," ujar Akhmad.

"Bus kita usianya sudah harus pensiun, hanya menjangkau penumpang saat pagi dan sore. Walaupun seperti itu tetap melakukan pelayanan terbaik ke masyarakat, mengutamakan keselamatan dan kenyamanan," kata Akhmad.

Soal keamanan bus reguler ia menuturkan setiap enam bulan sekali selalu melakukan uji KIR. "Unit Pelayanan Pengujian Kendaraan Bermotor (PKB) Pulogadung ada standarisasi, Uji KIR tidak akan meloloskan jika tidak sesuai standar, kita secara berkala melakukan pengujian setiap enam bulan sekali," kata Akhmad.

Dalam liputan khas ini, detikOto bersama dengan PasangMata melakukan penelusuran mengenai 'Transportasi Busuk'. Tapi, apakah semua transportasi busuk? Simak terus laporannya di detikOto.

Atau, Otolovers melihat ada 'transportasi busuk' di sekitarnya? Silakan kirim laporannya ke pasangmata.detik.com. (riar/rgr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com