"Biodiesel, biofuel sudah kita mulai melakukan produksi B20 kita teruskan sampai B100. Sehingga ketergantungan energi fosil akan dikurangi dari tahun ke tahun," ujar Jokowi di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2/2019).
Menanggapi hal tersebut, salah satu anggota Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kurnia Lesani Adnan yang juga memiliki bus Antar Kota Provinsi (AKAP) melihat hal tersebut akan sulit terwujud dalam waktu dekat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Menurut saya, bukan sebagai anggota tim kampanye dari kubu mana pun, kalau sampai biodiesel sampai 100 persen dilakukan, mesin diesel pasti kiamat. Mau teknologi apa pun pasti teknologi tidak bisa," ujar Kurnia kepada detikOto melalui sambungan telepon, Senin (18/02/2019).
Menurutnya B100 bisa lebih ke arah penggunaan tenaga terbarukan bioetanol. "Bisa dicek negara mana yang bio dieselnya sampai 20, sementara yang bionya tinggi itu bioetanol. Mungkin arahnya ke sana," kata Kurnia.
Kurnia mengungkapkan sebagai pemilik bus dirinya juga masih menemukan masalah soal penggunaan B20 terhadap armadanya, apalagi bila tidak apik soal perawatan. Ia menaruh perhatian dengan lebih sering mengganti filter BBM.
"Karena dengan B20 saja sudah banyak konsekuensi yang kita tanggung. Bisa mempengaruhi umur sistem pembakaran," kata Kurnia.
"Efek jangka panjangnya kalau hanya dicuci saja dan tidak diganti bisa mengakibatkan komponen ruang bakar cepat aus. Seperti injector, ring piston bahkan kemungkinan valve (katup) juga bisa terjadi kerusakan," urai Kurnia.
Simak juga video 'Bidik Perhatian Investor, 6 BUMN Gandeng Surveyor Indonesia':













































Komentar Terbanyak
Viral Lexus Berpelat RI 25 Potong Antrean di Gerbang Tol
Kursi Depan JakLingko untuk Prioritas, Tak Semua Orang Boleh Duduk
Viral Pemotor Maksa Lawan Arah, Nggak Dikasih Lewat Malah Ngamuk!