Jumat, 25 Jan 2019 15:11 WIB

Mengintip Rumah Produksi Jas Hujan

Ridwan Arifin - detikOto
Produksi jas hujan Foto: Ridwan Arifin/detikOto Produksi jas hujan Foto: Ridwan Arifin/detikOto
Jakarta - Jas hujan atau mantel menjadi perangkat yang tidak bisa dilepaskan dari pengendara sepeda motor ketika menerabas hujan. Tapi Otolovers tahu tidak bagaimana jas hujan itu diproduksi? Nah, kali ini Detikoto coba mengunjungi salah satu rumah produksi jas hujan dengan kualitas mumpuni di wilayah Depok, Jawa Barat.

Rupanya untuk bisa memproduksi jas hujan tidak tidak mudah, bahan material khusus membuat para pekerja pembuat jas hujan harus lebih hati-hati dalam memproduksi jas hujan terbaik. Terlebih, permintaan pasar akan jas hujan dewasa ini, jas hujan harus memiliki peran ganda. Selain memiliki efek daun talas, jas hujan saat ini juga harus fashionable, sehingga saat tidak hujan pun jas hujan bisa berubah fungsi menjadi jaket yang nyaman digunakan.



Beruntung kali ini detikOto bersama sang pemilik rumah produksi jas hujan PT Acold Prima Kreasi, Mohamad Said, melihat langsung bagaimana proses pembuatan jas hujan yang dimulainya sejak 5 tahun yang lalu di workshopnya, yang berada di Jl. Nurul Iman, Tapos, Depok, Jawa Barat.

Said menjelaskan, pembuatan jas hujan mirip dengan pembuatan pakaian orang biasa. Namun ada salah satu proses penting yang tidak boleh dilewatkan agar jas hujan tidak bocor bila terkena air.

"Yang pertama kita potong dulu (kainnya) sesuai pola, sekali potong biasanya sekitar 50 sampai 100 lembar," buka Said kepada detikOto.



"Setelah dipotong, kalau memang ada sablon, kita sablon dulu, tapi kalau tidak ada kita langsung proses berikutnya yaitu menjahit," sambung Said.

Saat ini ada delapan pegawai yang membantu Said untuk membuat jas hujan. Para pegawai terbagi tugasnya, mulai dari memotong, menjahit, sealing, dan finishing. Dalam pantauan kurang lebih ada 8 mesin jahit, satu mesin sealing, dan satu mesin pemasang kancing.

Di salah satu sudut ruangan, ada mesin seam sealer untuk melapisi jas hujan pada bagian yang dijahit. Nah, alat tersebut digunakan untuk press jas hujan, agar menghindari air yang rembes pada celah jas hujan.

"Kemudian setelah dijahit, biasanya ada pori-pori atau lubang-lubang kecil di sekitar jahitan bekas tusukan jarum, nah di kami ada proses yang namanya sealing menggunakan mesin seam sealer, fungsinya untuk menutup pori-pori tersebut agar ketika terkena hujan tidak bocor," ungkap Said.

Produksi Jas HujanProduksi Jas Hujan Foto: Ridwan Arifin


Proses terakhir, hanya tinggal bagian finishing seperti merapihkan benang, pemasangan puring, hingga kancing.

Harga jas hujan yang dijual produk Acold mulai dari Rp 195.000 untuk bahan rubber (PVC), dan Rp 250.000 untuk berbahan taslan balon atau polyster coating PU.

"Kami mendesain tidak hanya untuk pengguna motor saat menghadapi hujan, namun untuk jaket sehari-hari juga bisa, desainnya juga fashionable, walaupun dipakai di dalam kantor masih diterima," ungkap Said.

"Kenyamanan dari bahannya lembut dan tidak kaku, karena kita menggunakan bahan dari Polystere PU Coating sehingga nyaman dipakai baik kondisi hujan maupun cuaca terang," ungkapnya.

Desain milik produksi Acold terbilang beragam, ada jas hujan khusus wanita yang menggunakan rok, gamis, dan kerudung serta saat ini dirinya juga sudah memproduksi untuk para pendaki gunung.

Dalam sebulan, rumah produksi jas hujan Acold bisa mencetak angka sekitar 1.500 buah. Permintaan pun semakin meningkat kala musim hujan datang.

Mengintip Rumah Produksi Jas Hujan
(riar/lth)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com