Kamis, 27 Des 2018 19:01 WIB

Jurus Grab Biar Angka Kecelakaan di ASEAN Berkurang

M Luthfi Andika - detikOto
Grab Foto: Moch Prima Fauzi/detikcom Grab Foto: Moch Prima Fauzi/detikcom
Jakarta - Bukan rahasia umum, jika Grab itu sudah menjajakan kakinya di berbagai negara di ASEAN seperti Malaysia, Myanmar, Philipina, Singapura, Thailand, Vietnam, dan Indonesia. Sadar sudah menancapkan kakinya diberbagai negara membuat Grab selaku perusahaan ride sharing atau teknologi berniat untuk tingkatkan keselamatan berkendara.



Seperti rilis yang diterima detikOto, Kamis (27/12/2018), Grab ingin meningkatkan standar keselamatan berkendara di ASEAN.

Karena berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang diterima Grab, 25% dari total jumlah kecelakaan lalu lintas yang fatal di dunia terjadi di Asia Tenggara (menurut WHO termasuk Indonesia, Myanmar, dan Thailand).

Sementara itu, wilayah Pasifik Barat (termasuk Malaysia, Singapura, Filipina, Kamboja, dan Vietnam) memiliki jumlah cedera fatal akibat kecelakaan lalu lintas tertinggi di 1 dunia.



Namun, tingkat kematian akibat kecelakaan sangat bervariasi di berbagai wilayah ASEAN. Sebagai contoh, tingkat kematian per 100.000 dari total jumlah populasi di Malaysia dan Thailand dicatat lima kali lebih tinggi dibandingkan di Singapura. Sementara di Indonesia, terdapat 28.297 kematian akibat kecelakaan lalu lintas pada tahun 2014 yang menjadi faktor penyebab hilangnya 3 persen PDB (berdasarkan ASEAN Secretariat).

"Mengacu pada fakta tersebut, kami telah bermitra dengan sejumlah lembaga pemerintah di Asia Tenggara untuk mengembangkan beragam program yang ditujukan untuk mengatasi masalah keselamatan mereka," ujar Nicholas Chng, Head of Safety and Security Grab.

Nicholas juga mengatakan beragam inisiatif yang bertujuan untuk mengubah perilaku manusia seperti laporan telematika saat ini, sudah mulai membuahkan hasil. Meskipun jarak yang ditempuh oleh pengemudi Grab di Indonesia tahun ini bertambah dua kali lipat dari tahun lalu, tetapi jumlah rata-rata kecelakaan karena mengebut justru turun sebanyak 76%.

"Hal ini merupakan sebuah perbaikan terbesar di wilayah ini. Sementara itu, jumlah rata-rata perilaku menginjak gas dan mengerem mendadak per kilometer juga turun masing-masing sebanyak 51% dan 25%," tambah Nicholas. (lth/dry)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com